SAWAHLUNTO - Hari masih pagi, jam dilengan kiri saya masih menunjukan angka 7.00 WIB, suasana di zona A Ombilin Coal Mine Heritage of Sawahlunto mulai tampak dipenuhi warga memanfaatkan libur akhir pekan dengan berolahraga, jogging dan berjalan santai. Sesaat, suara sirine pekerja tambang menggema di udara, pertanda Sawahlunto pagi itu benar-benar sudah bangun dari tidur.
Masih di zona A, persis di areal museum kereta api Kampung Teleng, Kelurahan Pasar, dua pria baru saja turun dari kendaraan jenis minibus berpelat nomor DKI Jakarta berhenti dipinggir jalan. Satu orang terlihat berwajah belia sedang menuntun orang tua, diperkirakan berusia sekitar 75 tahun sambil memegang tongkat rotan berukir gambar naga yang menunjuk-nunjuk ke arah loko uap Mak Itam E 1060 dan gerbong penumpang kereta yang bersandar disisi museum.
Saya mendekat, sembari menyapa dan memperkenalkan diri sebagai seorang jurnalis. Diapun balik menjawab salam saya yang menghormati mereka sebagai orang asing di tanah tambang ini. "Kenalkan saya Daniel Ambrosius, dan ini cicit saya Bert. Kami menetap di Belanda" Kata pria gaek berkulit sawo mirip saudara kita dari Ambon ini.
Mereka mengaku mampir sejenak di Sawahlunto sekedar bernostalgia, sebelum menuju Medan lewat jalan darat. "Kakek saya pernah bekerja di tambang Ombilin dibagian angkutan perkeretaapian. Beliau pernah minta, sebelum meninggal anak dan cucunya dapat melawat ke Ombilin Sawahlunto dan naik kereta api. Tapi sekarang semua itu sudah jadi museum dan tak ada lagi kereta yang lewat " Tutur pria ini, sambil mengaku sangat mencintai kereta api dan kereta api wisata.
Kereta api sebagai sarana transportasi baik angkutan batubara, penumpang, dan kereta api wisata, di Sawahlunto hingga kini memang tidak lagi beroperasi seperti era kejayaan masa silamnya. Sejak 2003 silam, seiring berhentinya tambang Ombilin berproduksi, kereta api tak lagi berdenyut nafasnya disepanjang rel antara Sawahlunto hingga Kota Padang. Bahkan, track-nya pun mulai tertimbun bumi dan rusak tergerus abrasi dinding tanah.
Kerinduan Daniel Ambrosius terhadap kereta api Sawahlunto akan terobati, setelah ada kabar baik dari Walikota Sawahlunto Deri Asta yang diwawancarai wartawan koran ini beberapa hari lalu menyebutkan, tahun ini juga kereta api wisata Mak Itam akan kembali diaktivasi setelah Kementerian BUMN berhasil mengumpulkan dana bantuan Rp 20 miliar untuk mendukung perbaikan Lokomotiv uap Mak Itam E 1060 dan pembenahan track dari Stasiun Sawahlunto hingga Stasiun Muarokalaban.
"Alhamdulillah, tahun ini Sawahlunto memperoleh bantuan dana revitalisasi kereta api wisata Rp 20 miliar bersumber dari dana sponsorship PMO, dana gabungan dari beberapa BUMN untuk mengaktivasi kembali kereta api Sawahlunto - Muarokalaban. Dana tersebut dibagi untuk perbaikan loko uap dan infrastruktur track yang pekerjaannya sudah dimulai 1 Juni 2022. Kita patut bersyukur adanya perhatian Menteri BUMN Eric Tohir." Tutur Deri Asta.
Bantuan itu bukan diperoleh dengan mudah, tapi melalui perjuangan berat dengan menenteng proposal dan argumentatif logis keberbagai kementerian. Alhamdulillah, lanjut Deri, dengan pertimbangan, karena Ombilin Coal Mine Heritage of Sawahlunto (OCMHS) telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, maka Pemerintah Pusat mulai jatuh hati mendukung aktivasi kereta api wisata Mak Itam bernafas kembali diatas track Sawahlunto-Muarokalaban.
"InsyaAllah, kerinduan masyarakat pecinta keret api wisata heritage Sawahlunto-Muarokalaban akan segera terobati. Saya mengapresiasi semua BUMN yang telah membantu mendukung rencana aksi yang kami lakukan ini seperti PT KAI, PT Bio Farma, PT Pupuk Indonesia, dan PT Semen Indonesia, dan pihak lainnya." Pungkas Deri lagi.
Editor :






