"Cerpen-cerpen ini rasanya menggiring pembaca ke dalam diri penulis. Ke dalam ruang berpikir kreatif lingkungan dan memilih untuk mendekatkan ke dalam ruang-ruang realitas atau empiris. Sejatinya si pengarang harus bisa menjauhkan diri dari hal yang seperti ini. Pengarang harus bisa menjauhkan teks atau keegoisannya. Karena cerpen itu sifatnya bukan untuk dia sendiri, melainkan untuk bahan publik," tambah Ubai.
Sementara itu, Januar Efendi melihat buku ini merupakan sebuah kritik sosial terhadap lingkungan. Karena pada bagian cerpen pertama yang berjudul "Ami Ingin Pulang ke Masa Lalu", penulis mencoba untuk memaparkan yang akan terjadi ketika melakukan hal di luar kodrat sebagai manusia.
"Di sini saya melihat hubungan penulis dengan Tuhannya. Di mana penulis ini tampak sangat memahami hakikat kemanusiaan antara dia bersama dengan Tuhannya yang dipaparkan realita kejadian ke dalam cerpen 'Ami Ingin Pulang ke Masa Lalu'," pungkasnya.
Januar juga sependapat dengan Ubai Dillah yang mana setelah dilakukan pendekatan dengan metode hubungan manusia dengan waktu, Januar menilai buku ini merupakan kumpulan cerita yang ditayangkan di media cetak, lalu dikumpulkan daripada dibuang sayang.
"Saya tidak menemukan fungsi sastra dalam cerita ini jika runtutan ceritanya itu tidak sesuai dengan tahun, tanggal ataupun tempat waktu sastra itu dilahirkan. Penulis juga tidak memaparkan secara vulgar tentang ketokohan utama dalam cerita ini," ungkapnya.
"Sebuah karya kalau sudah diterbitkan, itu sudah milik publik. Semua bebas mengkritik dan memberikan masukan. Apapun itu, saya ucapkan terima kasih dan akan dijadikan sebagai pembelajaran untuk ke depannya," sebut pegiat literasi Pasaman Barat sekaligus penyair dan pengasuh Ruang Budaya Haluan Minggu ini.
Diskusi dan bedah buku ini turut dihadiri berbagai kalangan dan komunitas taman baca di Kota Padang Panjang.
(rifki/lex) Editor :






