KATA literasi memang tidak asing lagi bagi masyarakat. Di Kota Padangpanjang, berbagai program literasi telah digiatkan demi menumbuhkan minat baca untuk masyarakat dan generasi muda. Apalagi sejak dulunya, masyarakat kota ini dikenal suka membaca dan menulis sehingga tradisi tersebut mesti terus dilanjutkan.
Namun, sama-sama diketahui di era yang serba digital ini, masyarakat dan kaum muda cenderung lebih sibuk dengan gadget. Hal itu membuat minat baca masyarakat sangat berkurang. Gadget lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Generasi muda banyak dipengaruhi oleh game online.
Literasi suatu kemampuan untuk menyerap informasi dan ilmu pengetahuan dari bacaan, atau informasi-informasi digital lainnya yang bisa menjadi keterampilan yang dimiliki seseorang. Maka, pemerintah daerah berkomitmen mengawal Padangpanjang sebagai Kota literasi bekerja sama lintas sektor, yaitu akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media.
Di sini, literasi diharapkan mampu memberikan makna perubahan pandangan dan cara berpikir masyarakat serta generasi muda dalam menyikapi dan membaca fenomena, menganalisis serta mencari jalan keluar setiap persoalan yang tengah dihadapi. Sejak digerakkannya dan dicanangkannya Padangpanjang sebagai Kota Literasi, berbagai Taman Baca Masyarakat (TBM) pun hadir. Kini TBM terus tumbuh di tengah lingkungan warga. Bahkan dengan memanfaatkan pekarangan rumah maupun pos pemuda. Ada aktivitas untuk memancing minat baca dan kreativitas anak-anak yang singgah di TBM tersebut.
Nah, dengan kehadiran TBM inilah, kami berharap minat baca masyarakat lebih meningkat. Di zaman ini literasi dapat dikaitkan dengan digital, namun pada hakikatnya tidak melupakan sumber bacaan dari buku. Oleh karena itu, kita mesti secara bersama menggerakkan dukungan dalam bentuk penyediaan buku-buku ke TBM, pojok baca dan ruang baca yang ada.
Saat ini, terdata 20 TBM di beberapa kelurahan di Padangpanjang. TBM lahir karena diawali ketertarikan para pengelola terhadap literasi disertai keinginan membantu menyediakan ruang dan aktivitas bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Sebelumnya pemko mengukuhkan Forum Pegiat Literasi (FPL). Dulu mereka yang peduli literasi jalan sendiri-sendiri. Sekarang semuanya bisa bekerja sama, warga, FPL bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan (DPK) saling memberi masukan dan berbagi mengisi kegiatan di TBM-TBM yang sudah ada.
Meski bernama taman baca, namun yang tersedia bukan hanya ruang baca dan koleksi buku. Melainkan ada aktivitas lain untuk meningkatkan interaksi antarwarga, pemberdayaan masyarakat, serta yang terpenting mendidik anak-anak menjadi generasi gemar membaca, kreatif dan mandiri.
Banyak kegiatan berkaitan literasi berangkat dari inisiatif masyarakat dan pegiat literasi. Pengembangannya dilakukan di wadah TBM atau ruang baca yang tersebar di beberapa kelurahan serta gerakan di sekolah-sekolah.
Pemko mendukung program-program positif tersebut dengan memfasilitasi keperluan yang dibutuhkan bagi masyarakat dan pegiat literasi. Konkretnya, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait melakukan kegiatan rutin ke TBM-TBM yang ada di kelurahan. Misalnya, memfasilitasi kegiatan bedah buku, lomba dan pelatihan menulis serta peningkatan budaya membaca.







