Tradisi kaba juga berkaitan dengan tradisi lisan lain yang berkembang di Minangkabau. Selain bakaba, terdapat pasambahan, pidato adat, pantun, maota di lapau, dan tradisi surau yang menjadi ruang penggunaan bahasa lisan. Dalam kehidupan masyarakat, ruang-ruang tersebut memungkinkan pengetahuan dan nilai budaya disampaikan melalui percakapan, cerita, nasihat, serta pertunjukan.
Perjalanan kaba dari pertunjukan lisan ke buku juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat menyimpan cerita. Ketika cerita mulai ditulis dan dicetak, kaba tidak lagi hanya bergantung pada ingatan tukang cerita. Sejumlah kaba kemudian dapat dibaca oleh masyarakat dalam bentuk buku, sementara bentuk lisan tetap berkembang melalui pertunjukan dendang dan kesenian tradisional.
Bagi pendengar, kaba tidak hanya menghadirkan cerita tentang tokoh dan peristiwa. Di dalamnya terdapat bahasa, adat, hubungan sosial, serta gambaran kehidupan yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minangkabau. Ketika sebuah kaba kembali didendangkan atau dibaca, yang hadir bukan hanya cerita lama, tetapi juga cara masyarakat pada suatu masa menyusun dan menyampaikan pengalaman mereka melalui sastra lisan. (***)







