Selain Cindua Mato, terdapat pula kaba seperti Rambun Pamenan yang dikenal dalam kesusastraan Minangkabau. Kaba tersebut menggunakan bentuk prosa liris yang berbeda dari prosa biasa. Cerita dalam kaba dapat menyampaikan persoalan kehidupan sekaligus nilai yang berkaitan dengan hubungan sosial, adat, dan cara masyarakat memandang perilaku seseorang.
Cerita kaba juga tidak selalu berpusat pada lingkungan kerajaan. Perkembangan sastra Minangkabau melahirkan kaba dengan cerita yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan persoalan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut terlihat terutama pada kaba-kaba baru yang mulai berkembang pada abad ke-20 dan terus diterbitkan dalam berbagai bentuk.
Cara Penyampaian Kaba
Kekuatan kaba terletak pada cara cerita disampaikan. Ketika masih berkembang sebagai sastra lisan, kaba tidak hanya mengandalkan isi cerita, tetapi juga kemampuan tukang kaba dalam mengatur suara, irama, dan alur tuturan. Dalam pertunjukan tertentu, unsur musik ikut membantu membangun suasana cerita sehingga hubungan antara sastra lisan dan seni pertunjukan menjadi sangat dekat.
Rabab menjadi salah satu media yang digunakan untuk mengiringi penyampaian cerita dalam tradisi Minangkabau. Di Sumatera Barat dikenal beberapa bentuk rabab, seperti Rabab Pariaman, Rabab Darek atau Rabab Payakumbuh, dan Rabab Pesisir Selatan. Masing-masing berkembang di wilayah yang berbeda dan mempunyai bentuk alat serta karakter pertunjukan tersendiri. Tradisi rabab juga menggunakan lagu kaba sebagai salah satu bentuk repertoarnya.
Rabab Darek, misalnya, berkembang di wilayah yang mencakup Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar. Alat musik ini menggunakan badan berbahan kayu nangka yang dibuat sebagai ruang resonansi. Sementara Rabab Pariaman menggunakan tempurung kelapa atau galuak sebagai bagian dari badan alat musik. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa penyampaian kaba dapat berjalan bersama bentuk kesenian yang berkembang di masing-masing daerah.
Kaba dan Kehidupan Masyarakat
Isi kaba banyak berkaitan dengan persoalan kehidupan masyarakat Minangkabau. Di dalam cerita dapat ditemukan pembahasan mengenai adat, hubungan dalam keluarga, tanggung jawab sosial, pergaulan, kewajiban seseorang, hingga persoalan kehidupan rumah tangga. Karena itu, kaba dapat berfungsi sebagai sarana penyampaian pengetahuan sosial sekaligus hiburan bagi pendengar.
Hubungan kaba dengan nilai kehidupan juga terlihat dalam cerita-cerita yang menggambarkan sistem sosial Minangkabau. Kaba Cindua Mato, misalnya, menggambarkan kehidupan Kerajaan Pagaruyung sekaligus persoalan hubungan antara pusat kerajaan dan wilayah rantau. Cerita tersebut menghadirkan adat dan lembaga sosial sebagai bagian dari cara tokoh menghadapi persoalan yang muncul dalam cerita.







