Seorang teman pernah bilang, “Aku nggak bisa sering ketemu, tapi kamu boleh cerita kapan pun, aku dengar.” Kalimat itu sederhana, tapi menenangkan. Rasanya seperti dipeluk dari jauh.
Kadang, badunsanak justru hadir lewat hal kecil:
• Membalas story teman dengan kalimat hangat, bukan sekadar emoji.
• Mengingat makanan favoritnya dan tiba-tiba mengirim pesan, “Eh, di tempat makan itu ada jual bakso yang enak loh. Kapan kapan kesana bareng yuk.”
• Menyisihkan waktu untuk sekadar menelepon teman yang lama tak terdengar kabarnya, tanpa alasan apa pun selain “kangen aja.”
Ia cukup terasa.
Pernah pada saat itu, ditengah kegabutan yang melanda saat hanya scroll media sosial tiba-tiba temanku mengirimi pesan. Isi pesan tersebut sangat singkat, “lagi ngapain? Udah lama banget ga hubungin kamu”. Lalu setelah aku membalasnya, ia berinisiatif untuk menelfon. Dengan obrolan yang bebas dan tidak ada topik yang memang ingin kami bahas, tapi itu seolah menyiratkan bahwa walaupun kita sudah lama tidak bertemu secara langsung, tapi aku selalu inget kamu. Hal itu seperti suntikan energi yang datang saat dibutuhkan.
Di situlah aku paham: nilai badunsanak tidak hilang. Ia hanya berubah rupa.
Zaman boleh berganti, platform komunikasi boleh berubah. Tapi rasa saling peduli, rasa ingin tahu kabar orang lain, dan rasa ingin hadir saat dibutuhkan—itulah yang sejatinya membentuk dan menjaga relasi.







