Teknologi membuat kita terhubung lebih mudah dengan orang lain dibandingkan dari sebelumnya, tapi terkadang juga membuat lebih asing. Kita bisa tahu kabar seorang teman dari melihat story, tapi tak lagi bertanya langsung. Kita menyukai unggahan mereka, tapi lupa untuk bertegur sapa saat bertemu di jalan.
Pertemanan kini terasa cepat—dan juga dangkal.
Percakapan penuh dengan stiker, emoji, dan pesan singkat. Tapi semakin jarang kita benar-benar hadir, mendengarkan, atau sekadar duduk bersama tanpa harus pegang gawai.
Kita hidup di era di mana koneksi banyak, tapi kedekatan menipis. Entah itu karena semakin banyak orang yang kita jumpai sehingga ”people come and go” membuat kita enggan mempertahankan kedekatan emosional dengan orang lain.
Mencari Bentuk Baru dari Nilai Lama
Pernah saat beberapa waktu lalu, ketika aku sedang disibukan dengan tugas dan aktivitas perkuliahan. Jadi, teman dekatku pada saat aku di jenjang SMA mengirimi pesan singkat untuk menanyakan kabarku dan bagaimana kegiatan perkuliahanku. Pesan singkat itu seperti mengingatkan kedekatan kami dulu dan banyaknya hal yang sudah dilalui bersama sama pada saat itu.
Dari situ, aku mulai sadar: mungkin badunsanak di zaman sekarang memang tidak akan pernah sama lagi bentuknya seperti dulu. Tapi bukan berarti hilang. Mungkin ia hanya perlu ditemukan kembali—dengan cara yang baru.
Dulu kita terbiasa hadir dengan tubuh: datang ke rumah, mengerjakan berbagai hal secara langsung, heboh bertukar cerita, atau menjenguk langsung kalau ada yang sakit. Tapi sekarang, semuanya berubah. Jarak, kesibukan, dan perubahan gaya hidup membuat kehadiran fisik jadi hal yang langka.
Tapi bukan berarti kita tidak bisa hadir dengan hati dan tetap menjaga koneksi.







