IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Beretorika dalam Seni Batombe di Nagari Abai Sangir Solok Selatan

Foto Annisa Putri
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

ASAL mula atau keberadaan batombe, menurut cerita yang beredar hingga hari ini berhubungan dengan suatu peristiwa padamasa lalu di Nagari Abai. Disebutkan bahwa, pada saat nagari ini mulai didiami oleh penduduk yang datang dari berbagai daerah sekitarnya dan semakin ramai, terniatlah oleh mereka untuk membuat sebuah rumah tempat tinggal agar aman dari segala bahaya yang mungkin datang seperti binatang buas, banjir dan lainnya. Rumah yang akan dibangun adalah jenis rumah panggung yang lantainya ditinggikan dari tanah (rumah gadang), dan kayu untuk tiang rumah mesti diangkut dari hutan.

Untuk membawa kayu itu dari hutan memerlukan tenaga manusia yang banyak, tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang saja, dan harus dikerjakan secara bersama oleh masyarakat. Oleh karenanya, timbul kesepakatan dari pemuka masyarakat waktu itu mengerjakannya secara bersama-sama (gotongroyong), mulai dari mencari kayu dari hutan sampai selesainya pendirian rumah tersebut.

Hal pertama yang dilakukan adalah mencari kayu di hutan untuk bahan pembuatan rumah tersebut, yang umumnya besar-besar dan harus dibawa atau ditarik dengan menggunakan tali dari rotan. Pekerjaan membawa kayu besar itu dilakukan oleh kaum laki-laki yang sudah dewasa, sedangkan kaum perempuan menyediakan makanan dan minuman bagi yang bekerja. Pada suatu kejadian, kayu besar itu tidak bisa ditarik untuk dibawa ke tempat pendirian rumah gadang, walaupun telah dicoba berulangkali oleh kaum laki-laki.

Oleh karenanya, masyarakat berupaya dengan berbagai cara agar kayu bisa dibawa, disamping membaca ayat Al Qur’an ataupun memohon pada roh atau dewa yang ada di hutan tersebut (penunggu hutan), agar kayu yang berat itu menjadi ringan dan bisa dibawa ke tempat pendirian rumah gadang. Pada waktu itu, ketika keputusasaan mulai mendera kaum laki-laki yang sedang bekerja, kaum perempuan secara spontan mendendangkan pantun untuk memberikan semangat pada kaum laki-laki. Pantun yang dilantunkan oleh kaum perempuan itu dibalas pula dengan pantun oleh kaum laki-laki, sehingga terjadilah berbalasan pantun antara kaum laki-laki dan kaum perempuan pada waktu itu.

Uniknya setelah itu, kayu yang berat dan besar itu bisa ditarik dan dengan mudah bisa dibawa ke nagari (lokasi pendirian rumah gadang). Berangkat dari kejadian ini, selanjutnya aktifitas berbalas pantun menjadi hal yang selalu dilakukan setiap ada hajat mendirikan rumah gadang di Nagari Abai. Antara kaum laki-laki dengan kaum perempuan. Aktifitas berbalasan pantun itu kemudian lazim disebut dengan batombe hingga sekarang. Jadi, adanya kesenian batombe pada zaman dahulunya lahir dari ketidaksengajaan, bahkan hingga kini tidak seorangpun yang tahu siapa penciptanya.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Dalam perkembangannya, aktifitas berbalas pantun atau batombe tidak hanya diadakan pada waktu pendirian rumah gadang, melainkan juga pada waktu upacara perkawinan (baralek), pengangkatan penghulu (batagak pangulu), penyambutan tamu dan lainnya. Bahkan sekarang ini menjadi salah andalan pariwisata di Kabupaten Solok Selatan, dan diupayakan kelestariannya.

Dari segi etimologis, istilah batombe berasal dari kata “ba” dan “tombe”, ba merupakan kata awalan sedangkan tombe merupakan kata dasar yang sesungguhnya menunjukkan nama kesenian tersebut. Jelasnya, nama kesenian ini sebetulnya adalah tombe atau pantun, dan aktifitas berbalas pantun itu yang disebut dengan batombe. Kata “tombe” berasal dari bahasa Abai yang bisa diartikan sebagai pantun, dan aktifitas berbalas pantun itulah yang disebut dengan batombe hingga sekarang.

Artinya, awalan ba mengiringi kata tombe, merujuk pada aktifitas berbalasan pantun (batombe), yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan kesenian batombe. Menurut seorang warga masyarakat Abai, kata tombe sesungguhnya mengandung tiga makna yakni, 1) Tiang atau tegak, 2) Musyawarah atau mufakat, dan 3) Bersatu, yang maksudnya adalah tanda masyarakat bersatu. Dengan adanya tombe ini masyarakat menjadi bersatu, bekerjasama “manjapuik baban nan jauah, pambao baban nan barek” (menjemput beban yang jauh, pembawa beban yang berat).

Beban berat yang dimaksudkan adalah adalah pelaksanaan hajat bersama demi kepentingan bersama pula, seperti pendirian rumah gadang (batagak rumah), pelaksanaan upacara perkawinan (baralek), pengangkatan penghulu baru (batagak pangulu) dan lainnya. pelaksanaan upacara adat itu sekaligus bagi setiap suku sebagai tanda kebesarannya25. Jadi, esensi dari berbalasan pantun (batombe) pada hakikatnya dalam rangka “manjapuik baban nan barek” (menjemput beban yang berat), dan secara harfiah beban yang berat ityulah adalah kayu untuk pembangunan rumah gadang.

Oleh karenanya, dalam setiap peristiwa-peristiwa itu selalu diadakan aktifitas batombe (berbalasan pantun) antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Aktifitas batombe dalam perkembangannnya kemudian, tidak saja sebagai unsur penyemangat dalam bekerja, melainkan juga menjadi pemersatu masyarakat Nagari Abai. Dalam perkembangan kemudian aktifitas batombe tersebut menjadi suatu tradisi dalam kehidupan masyarakat Abai hingga sekarang, sehingga ada yang menyebutnya dengan tradisi batombe.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH