Bisa dibilang Nagari Koto Dalam Barat ini seakan dianaktirikan oleh Pemkab Padang Pariaman. Padahal warga sangat bergantung terhadap jembatan ini untuk melansir hasil sawah dan perkebunan.
Untuk saat ini petani harus mengangkut hasil taninya sedikit demi sedikit dengan sepeda motor. Bila hujan, jembatan akan terendam dan tentu saja hasil tani tidak bisa diangkut keluar dari daerah ini. Kalaupun terpaksa, warga harus berputar jauh sehingga memakan waktu lebih lama dan membuat biaya yang dikeluarkan lebih besar.
Jalan Rusak Parah
Tak hanya jembatan, jalan penghubung utama masyarakat
antar nagari (desa) di daerah ini juga banyak yang rusak parah. Dari hasil penelusuran dilapangan, banyak titik jalan yang sangat susah dilewati sepeda motor karena banyaknya lubang menganga di sepanjang jalan.
Struktur jalan berupa pendakian yang sangat tinggi dan penurunan curam memperparah keadaan. Belum lagi permukaan jalan yang tergenang air disaat hujan. Anak sekolah juga terpaksa diliburkan karena tidak memungkinkan untuk berangkat ke sekolah.
"Kita tak tahu apakah usulan kita itu dibahas dan diusulkan juga dalam Musyawarah Rencana Pembangunan kecamatan ataupun kabupaten. Saat ini kita terus berharap semoga di tahun ini usulan kita dapat diakomodir Pemkab," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua GMKT Deri Apriandi, merasa miris melihat rubuhnya jembatan dan ketertinggalan Nagari Koto Dalam Barat saat ini.
"Bila melihat kepentingan masyarakat setempat, perbaikan jembatan mestinya sudah dilakukan tidak lama setelah kejadian. Saya justru heran kenapa jembatan ini dibiarkan begitu saja. Anggapan saya pemkab seperti menganaktirikan daerah ini. Tentu saja tak bisa dibiarkan karena pembangunan di setiap daerah harus adil dan merata. Itu kewajiban pemerintah," sinis Deri.
Editor : Marjeni Rokcalva






