Tentu ini sebuah data yang menceritakan kepada kita bahwasannya sebagai kabupaten yang baru berumur 17 tahun, IPM kita tidak terlalu mengecewakan. Namun memang perlu ditingkatkan pada tahun tahun mendatang.
Secara penilaian pada aspek kesehatan, pendidikan, dan standar perekonomian masyarakat, penulis melihat kita berada pada level menengah, dan bukan berada pada level yang terlalu bawah.
Dan ini adalah data yang disusun institusi negara (Biro Pusat Statistik) untuk mengkaji dan menganalisis berbagai data guna kepentingan pengambilan kebijakan publik. Bukan asumsi atau cerita semata, tapi hasil survey dan kajian langsung ke lapangan setiap tahunnya.
Jika dilihat persentase kemiskinan tahun 2020, sebanyak 7,15 % masyarakat Solok Selatan masih berada pada garis kemiskinan. Namun angka ini juga masih lebih baik dibanding beberapa kabupaten lain. Seperti halnya angka kemiskinan di Kab. Solok 7,81%, Pesisir Selatan 7,61%, Pasaman 7,16%, dan Mentawai dengan 14,35%.
Ditilik dari laju pertumbuhan ekonomi pun, Solok Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Tahun 2019, Solsel mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,89%, dan angka ini lebih baik dibanding Pessel 4,81%, Sijunjung 4,83%, Padang Pariaman 2,51%, Mentawai 4,76%, Agam 4,81%, Pasaman 4,84%, serta Pasaman Barat 4,49%.
Solok Selatan dengan potensi investasi panas bumi, perkebunan, pariwisata, dan sektor lainnya, diyakini akan terus berkembang dan melaju kencang untuk mampu sejajar dengan kabupaten lain di Sumbar.
Lalu kenapa masih banyak diantara kita masih berasumsi/beranggapan/merasakan Solok Selatan sebagai daerah terbelakang?? Kita bahas di opini selanjutnya. (***)
Oleh : Firdaus Firman (Kabag Humas dan Protokol Pemkab Solsel, Alumni Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE Univ. Indonesia dan Ilmu Politik Univ. Andalas. Penerima Beasiswa S2 BAPPENAS RI)
Editor : Berita Minang






