IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Kegusaran Sastrawan Saat Memasuki Purnabakti Guru Besar di UNP

Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd (kanan) bersama Pimred Beritaminangcom Marjeni Rokcalva. Foto: Bakri/Humas UNP
Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd (kanan) bersama Pimred Beritaminangcom Marjeni Rokcalva. Foto: Bakri/Humas UNP
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

"Saya terkejut, saat ini usai sudah 50 tahun, ditambah tiga anaknya sedang kuliah. Tentu saya membutuhkan beasiswa dan bisa tamat tepat waktu," kata mantan Ketua Dewan Kesenian Sumbar ini.

Dan setelah kepastian dapat beasiswa selama 6 semester untuk S-3, Harris melanjutkan kuliah di UNJ sejak tahun 2003 dan selesai tahun 2006.

"Jadilah saya lulusan doktor tertua kala itu," katanya mengenang.

Perlu waktu tiga tahun, bagi Harris untuk menyandang gelar profesor (November 2009).

Kini setelah 10 tahun jadi guru besar, ia harus menjalani purnabakti, meski ia masih bisa mengajar 10 tahun lagi, bila kampus masih membutuhkannya.

Mengakhiri pembicaraan, Harris mengemukakan obsesi dirinya yang belum kesampaian selama menjadi guru besar.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
"Sebenarnya obsesi saya yang tidak kesampaian tidaklah berdiri sendiri. Ketika membaca draf disertasi mahasiswa S3 yang belepotan bahasanya, tidak mungkin disalahkan karena perolehan mata kuliah Bahasa Indonesianya di perguruan tinggi yang kurang," katanya.

Karena, sambung lelaki yang masih produktif menulis kolom di surat kabar ini, pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai sejak SD. Mari kita sejenak menelusuri, bagaimana sebenarnya proses pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, sejak SD hingga SLTA, yang meliputi guru, kurikulum, proses belajar serta evaluasi.

"Hasil angket yang saya bagikan kepada guru Bahasa Indonesia tingkat SLTP dan SLTA se-Sumatera Barat 2016 lalu tentang evaluasi pembelajaran menulis, hanya 15% yang mengaku memeriksa karangan siswa. Selebihnya memberi nilai dengan melihat kerapian tulisan. Alasannya soal waktu dan banyaknya siswa," tambahnya.

Harris melihat, sudah waktunya kita mengevaluasi kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH