IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Kegusaran Sastrawan Saat Memasuki Purnabakti Guru Besar di UNP

Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd (kanan) bersama Pimred Beritaminangcom Marjeni Rokcalva. Foto: Bakri/Humas UNP
Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd (kanan) bersama Pimred Beritaminangcom Marjeni Rokcalva. Foto: Bakri/Humas UNP
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

PADANG - Selasa, 29 Desember 2020 Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd resmi menjalani upacara purnabakti sebagai seorang guru besar bidang Pendidikan Sastera Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP).

Rektor UNP Prof. Ganefri, Ph.D dalam upacara Purnabakti Guru Besar di kampus UNP Air Tawar Padang, dengan khusus meminta kepada sastrawan terkenal dengan Cerpen 'Si Padang' ini jangan berhenti berkarya, dan jika mengeluarkan sebuah karya jangan lupa mencantumkan nama UNP.

Harris Efendi Thahar, yang tahun ini genap berumur 70 tahun, selama 10 tahun belakangan menjadi guru besar di UNP. Dalam orasi kehormatannya, Harris Efendi Thahar, menyebutkan waktu 10 tahun jadi guru besar terasa sangat singkat. Dan boleh jadi tidak sebanding dengan perjuangan panjang dan berliku dirinya untuk menjadi profesor.

Betapa tidak. Dalam catatan Beritaminangcom, Harris Efendi Thahar, menjalani jalan panjang untuk bisa menjadi seorang guru besar. Ia harus bisa menamatkan progrom doktoral dalam usia kepala lima. Bahkan bila melihat ke belakang, Harris Efendi Thahar, harus menjadi seorang teknisi dulu dulu di Fakultas Pendikan Teknologi Kejuruan IKIP Padang (sekarang Fakultas Teknik UNP) dengan ijazah sarjana muda (B.Sc).

Barulah setelah ia melanjutkan kuliah S-1 di Jurusan Pendidikan Bahasa IKIP Padang dan selesai di tahun 1994, ia bisa mengajukan diri menjadi seorang dosen (staf pengajar). Tapi, itu tidaklah mudah.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
"Meski almarhum Prof. Dr. Mursal Esten mengusulkan ia untuk jadi dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dewan dosen tidak serta merta menerima saya," katanya mengenang, dalam bincang khusus dengan Beritaminang, Selasa siang.

Disebutkan Harris Efendi Thahar, bila ia ingin diangkat jadi dosen, sebagian dosen meminta ia harus mengajukan lamaran dulu, baru dirapatkan dalam dewan dosen. Mendapat sanggahan itu, lagi-lagi Prof. Dr. Mursal Esten tabik rabo. "Kalau dia tidak melamar, justru kita yang melamar dia karena jurusan ini memerlukannya, karena dia adalah praktisi sekaligus akademisi."

Belakangan, kata Harris Efendi Thahar, usai rapat dewan dosen itu, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia meminta menyiapkan berkas usulan menjadi dosen dari pegawai teknisi.

Muluskah setelah itu? Sama sekali tidak. Menurut Harris, butuh waktu lama proses, apalagi ada semacam konvensi, bahwa lulusan IKIP tidak bisa jadi dosen. Namun berkat dukungan dan kegigihan Prof. Dr. Mohd. Ansyar Rektor IKIP Padang kala itu, baru setahun kemudian di tahun 1995 ia resmi diangkat jadi dosen dalam usia 45 tahun.

Guna mengejar kepangkatan, ia kemudian melanjutkan studi pasca sarjana (S2) dan lulus tahun 2000 dalam usia 50 tahun. Harris sebenarnya tidak mau kuliah lagi, tapi Ketua Prodi S2 Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana UNP memintanya melanjutkan program doktoral.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH