PADANG - Masjid Raya Sumatera Barat yang terletak di bilangan Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang, kini menjadi pusat kendali pelaksanaan MTQ Nasional XXVIII dan disinilah berkantor Sekretariat Panitia Pelaksana MTQ Nasional XXVIII.
Bagi Kafilah MTQ dari seluruh provinsi di Indonesia yang siap datang ke Sumatera Barat guna mengikuti rangkaian MTQ dari tanggal 12 hingga 21 November 2020 mendatang, begini sejarah ringkas salah satu Masjid kebanggaan Warga Sumbar ini.
Jika melakukan perjalanan udara dan saat akan mendarat ke Bandra Internasional Minangkabau (BIM) para penumpang yang duduk di kursi pintu bagian kanan akan bisa melihat keagungan masjid ini saat melihat Kota Padang dari udara. Masjid yang memiliki atap berbentuk gonjong pada empat sisinya yang mencerminkan bentuk rumah adat Minang yakni rumah gadang akan terlihat megah dan kokoh berdiri di tengah Kota Padang.
Masjid Raya Sumbar dibangun di tanah seluas 12 hektare menghabiskan biaya sekitar Rp300 miliar. Awal mula pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat dilatari dari pertemuan bilateral antara Indonesia dengan Malaysia di Bukittinggi pada 12-13 Januari 2016, dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.
Ketika kedua kepala negara akan ibadah Shalat Jumat, Sumbar belum punya masjid besar yang bisa menampung jamaah dalam jumlah banyak. Akhirnya kedua kepala negara melaksanakan shalat Jumat di salah satu masjid yang ada di Bukittinggi dengan kondisi seadanya. Melihat kondisi tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla berujar kepada Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi.
Mendengar celutukan tersebut Gubernur Gamawan tidak enak hati. Usai pertemuan bilateral tersebut akhirnya Pemprov Sumbar menyepakati membangun masjid yang besar dan representatif berlokasi di kota Padang.
Lokasi masjid diputuskan berada di jalan Khatib Sulaiman. Setelah itu, diadakan sayembara. Dari lima nominasi, konsep masjid tanpa kubah justru yang menjadi pilihan setelah debat yang cukup panjang. Masjid tanpa kubah itu merupakan karya dari biro arsitek Urbane yang didirikan Ridwan Kamil.
Perancang Masjid Raya Sumatera Barat, yakni arsitek bernama Rizal Muslimin yang saat ini menjadi dosen di Sydney, Australia.
"Jadi konsepnya masjid ini adalah kain yang terbentang, pada cerita terjadi perselisihan bagaimana memindahkan Batu Hajar Aswad oleh empat suku di Mekah. Dan oleh Nabi Muhammad diambil kain, nah bentangan kain yang ada batu di tengah ini melengkung. Sehingga melengkung-nya ini yang jadi atap masjid," kata Ridwan Kamil ketika berkunjung ke Sumbar beberapa tahun lalu.
Editor : Berita Minang






