" Bila ada terindikasi, seperti demam tinggi dan sebagainya, kita akan arahkan ke Puskesmas yang ada disini. Kalau toh, tidak ada tempat isolasi, mungkin kita pakai kelas," ungkap Ustadz Muhamad Mahfuz Mustia.
Terkait dampak Covid 19 pada pendaftaran santri baru, diakui Ustadz Mahfus, berkurang dari tahun sebelumnya. Bila tahun sebelumnya pendaftaran murid Aliyah mencapai 40 orang, kini baru 17 orang yang mendaftar. Sementara, Pendaftaran murid Tsanawiyah yang dulu 60 orang kini baru 44 orang.
"Mungkin karena faktor ekonomi.
Sebagian wali santri merupakan non PNS. Diantaranya, para petani karet, sawit,pedagang. Hal ini tentu cukup berdampak kepada perekonomian mereka jadi mungkin itu yang menyebabkan sejumlah orang tua kesulitan menyekolahkan anaknya," lanjut Ustadz.
Lebih lanjut, berdasarkan standar pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM) di Pondok Pesantren di New Normal, Santri belum bisa diizinkan keluar pondok di akhir pekan. " Yang biasanya kita tiap minggu membuka perizinan, untuk ke Pasar , untuk sementara tidak diizinkan dulu, termasuk santri dari Kota Padang Panjang," lanjut Ustadz.
Hal itu menindak lanjuti arahan Walikota melalui Dinas Pendidikan Kota Padang Panjang.
Sekolah Siapkan Modul
Sedangkan bagi MAKM Muhammadiyah, menurut Kepala Sekolah MAKM Derliana, mengatakan, penerapan protokol kesehatan telah dia siapkan di lingkungan sekolah, baik untuk kelas maupun asrama.
Adapun perlengkapan yang di sediakan itu, adalah adanya tim gugus, kelas diatur jarak 1 m antar meja, CTPS, masker, alat pengukuran suhu, penyemprotan disinfektan, jarak tempat tidur dan pengadaan sabun di setiap kloset.
Editor : Berita Minang






