Pagi itu suasana di halaman Integrated Terminal Teluk Kabung, Padang, terlihat berbeda. Puluhan siswa SMA berdiri mengelilingi sebuah mobil tangki berukuran besar. Mereka memperhatikan instruktur yang sedang memberikan arahan. Sebagian tampak penasaran. Sebagian lainnya terlihat santai, menganggap kegiatan tersebut tidak jauh berbeda dengan sosialisasi sekolah pada umumnya.
Namun beberapa menit kemudian, ekspresi mereka berubah. Satu per satu siswa diminta berdiri di berbagai sisi kendaraan. Kemudian mereka bergantian duduk di kursi pengemudi. Saat itulah mereka menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka pikirkan.
Teman mereka yang berdiri hanya beberapa meter dari kendaraan ternyata tidak terlihat sama sekali dari posisi pengemudi. Ada ruang kosong yang tak tampak oleh mata pengemudi dan area berbahaya yang selama ini tidak mereka sadari. Zona itulah yang dinamakan blind spot.
Bagi banyak orang, istilah tersebut mungkin terdengar teknis dan rumit. Namun di balik istilah sederhana itu tersimpan ancaman yang setiap hari mengintai jutaan pengguna jalan di Indonesia. Kecelakaan lalu lintas sering kali terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan karena ketidaktahuan. Dan blind spot adalah salah satu bentuk ketidaktahuan yang paling mematikan.
Setiap hari, ratusan mobil tangki bahan bakar minyak milik atau mitra PT Elnusa Petrofin melintas di jalan-jalan Indonesia, dari jalan tol mulus di Pulau Jawa hingga jalan lintas Kalimantan yang berliku. Kendaraan-kendaraan raksasa ini membawa beban ganda: muatan BBM yang harus sampai tepat waktu dan aman, serta tanggung jawab keselamatan terhadap setiap pengguna jalan lain yang berpapasan dengan mereka.
Di sinilah lahir sebuah paradoks yang menarik, perusahaan distribusi energi yang justru paling aktif mengedukasi masyarakat tentang bahaya kendaraannya sendiri. Program Safety Awareness yang digagas EPN untuk mengedukasi masyarakat tentang blind spot kendaraan besar telah berjalan selama beberapa tahun, namun intensitasnya meningkat signifikan.
Manager Corporate Communication & Relatons PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Bulan K3 yang dikemas dalam Program CSR mengenai edukasi keselamatan berlalu lintas.
“Kami berharap dengan adanya sosialisasi ini, para pelajar lebih waspada dan memahami pentingnya memperhatikan blind spot di jalan raya. Ini adalah langkah kecil namun sangat berarti dalam menciptakan budaya berkendara yang lebih aman,” ujarnya.
Program serupa digelar di SMAN 4 Cakalang, Makassar, bekerja sama dengan Satlantas Polres Pelabuhan Kota Makassar. Kali ini 105 peserta siswa dan warga ring-1 sekitar Integrated Terminal Makassar, mengikuti sosialisasi yang dikemas lebih interaktif, dilengkapi kuis dan pembagian hadiah berupa perlengkapan berkendara. Satu yang mengesankan, kegiatan ini telah terlaksana di 34 sekolah yang berdekatan dengan wilayah operasional EPN di seluruh Indonesia.
Data kecelakaan lalu lintas Indonesia berbicara keras. Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Makassar, AKP Nurshanty, mayoritas kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar adalah kecelakaan pasif. Artinya, korban tidak menyadari posisi mereka berada di zona buta kendaraan.
Editor : Abna Hidayati






