Tradisi Mauluan Bogheh Dihidupkan Lagi, Pemko Payakumbuh: Jangan Sampai Adat Minang Tergerus Zaman

Tradisi Mauluan Bogheh Dihidupkan Lagi, Pemko Payakumbuh: Jangan Sampai Adat Minang Tergerus Zaman
Tradisi Mauluan Bogheh Dihidupkan Lagi, Pemko Payakumbuh: Jangan Sampai Adat Minang Tergerus Zaman
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Ia menegaskan kemajuan daerah tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mempertahankan dan mengamalkan nilai adat serta tradisi yang menjadi identitas daerah.

"Kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan dan mengamalkan adat serta tradisi yang dimiliki," ujarnya.

Pemko Payakumbuh mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut, termasuk Disparpora, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Payakumbuh, Bundo Kanduang, Kerapatan Adat Nagari (KAN), serta rang mudo dan puti bungsu.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll ke bawah untuk lanjut membaca
Sementara itu, Ketua KAN Aua Kuniang B. Dt. Paduko Marajo menjelaskan Mauluan Bogheh atau Mahantaan Marapulai merupakan prosesi adat yang dilaksanakan setelah akad nikah dalam rangkaian pesta pernikahan di pihak mempelai perempuan.

Prosesi tersebut menggambarkan kebersamaan keluarga besar dalam mengantarkan mempelai laki-laki ke rumah anak daro sebagai simbol restu, penghormatan, dan penguatan ikatan kekeluargaan kedua belah pihak.

Penulis / Wartawan:
Editor: Medio Agusta

Standar Redaksi & Kepercayaan (E-E-A-T): Berita ini ditulis oleh jurnalis Medio Agusta dan telah melalui proses verifikasi serta penyuntingan oleh Medio Agusta sesuai Pedoman Media Siber Dewan Pers. Diterbitkan oleh PT Berita Minang Media Sumbar (Susunan Redaksi).
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH