Remaja dan pengendara sepeda motor menjadi kelompok paling rentan. Program edukasi yang dilakukan EPN merespons data ini secara langsung: sasaran utama adalah pelajar SMA, generasi yang sudah mulai berkendara namun belum tentu memiliki kesadaran akan risiko blind spot kendaraan besar.
Pendekatan EPN dalam program ini layak dicermati lebih dalam. Alih-alih sekadar kampanye poster atau bagi-bagi brosur, EPN mengandalkan simulasi langsung: peserta diajak naik ke kabin pengemudi mobil tangki dan melihat sendiri seberapa besar area yang tidak terjangkau kaca spion. Pengalaman fisik semacam ini memiliki daya ingat yang jauh lebih tinggi dibandingkan informasi tertulis. Ketika seorang remaja sudah pernah 'melihat' dari perspektif pengemudi tangki betapa besar area yang tidak terlihat, kemungkinan besar ia akan lebih hati-hati saat berkendara di sekitar kendaraan besar.
Dimensi tanggung jawab perusahaan dalam program ini juga menarik untuk dianalisis. Secara hukum, EPN tidak berkewajiban mengedukasi masyarakat umum tentang risiko yang ditimbulkan armadanya. Namun EPN memilih melakukannya secara proaktif, bahkan mengalokasikan sumber daya signifikan, yakni tenaga HSSE (Health, Safety, Security & Environment), waktu, dan logistic. Semua itu dilakukan untuk menjangkau puluhan sekolah di berbagai wilayah.
Program safety awareness EPN juga mencerminkan pemahaman bahwa keselamatan lalu lintas adalah eksternalitas dari bisnis distribusi BBM yang selama ini tidak diperhitungkan dalam laporan keuangan. Setiap kecelakaan yang melibatkan mobil tangka, bahkan jika pengemudi tidak bersalah, menciptakan kerugian sosial yang luas: korban jiwa atau luka, kemacetan, kerusakan properti, hingga trauma psikologis keluarga korban.
Pada akhirnya, program Safety Awareness EPN mengajukan pertanyaan yang lebih dalam kepada industri, yakni seberapa jauh tanggung jawab sebuah perusahaan terhadap dampak keberadaan armadanya di jalan publik? EPN tampaknya menjawab lebih jauh dari yang diwajibkan secara hukum. Dalam konteks Indonesia langkah itu terasa seperti langkah yang tepat dan mendesak untuk dicontoh industri lain. (***)
Editor : Abna Hidayati






