Kisah serupa terjadi di Provinsi Riau, di mana EPN melalui unit operasi Integrated Terminal (IT) Dumai membina kelompok pengrajin tenun tradisional di Pulau Bungkuk, Kota Dumai, sejak 2022. Lima ibu rumah tangga lokal yang sebelumnya hanya menenun untuk kebutuhan sendiri atau dijual secara sporadis kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta per bulan dari kain tenun khas Kota Dumai.
Program pendampingan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya local, karena kain tenun tradisional yang terancam punah akibat minimnya regenerasi pengrajin. Langkah ini juga membuka ruang ekonomi bagi perempuan pesisir yang selama ini termarjinalkan dari arus ekonomi formal.
Paralel dengan program ini, unit operasi Fuel Terminal (FT) Tembilahan di Kabupaten Indragiri Hilir menginisiasi program Posyandu Home Care sejak 2023. Program ini berupa pendampingan kapasitas kader posyandu di KM 3 Sungai Gantang. Kabupaten Indragiri Hilir adalah salah satu lokasi intervensi khusus penanganan stunting dalam agenda Pemerintah Provinsi Riau.
Satu di antara catatan dari langkah menarik ini, sebagian besar penerima manfaat langsung dari program UMKM Academy EPN adalah perempuan: istri AMT, ibu rumah tangga, anggota PKK. Ini bukan kebetulan. Dalam konteks perusahaan distribusi energi yang armadanya didominasi pengemudi laki-laki, program pemberdayaan perempuan menjadi semacam penyeimbang.
Editor : Abna Hidayati







