Thiur Maita Lubis tidak pernah membayangkan bahwa tempoyak, yakni fermentasi durian yang selama ini hanya menjadi pelengkap masakan tradisional Jambi, akan membawanya ke 12 toko oleh-oleh dan menghasilkan omzet Rp10 juta setiap bulan. Ia adalah istri dari seorang Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin di wilayah operasi Jambi.
Thiur paham, profesi pasangan hidupnya bagi banyak keluarga berarti sang suami lebih banyak menghabiskan waktu di jalan daripada di rumah. Thiur memilih mengisi waktu itu dengan berkreasi. Dan ketika PT Elnusa Petrofin datang dengan program CSR UMKM Academy, kreativitasnya menemukan landasan yang lebih kokoh.
Aksena Snack, merek camilan tempoyak buatannya, kini bukan sekadar usaha rumahan. Produknya sudah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Semu aitu bukan karena Thiur tahu betul seluk-beluk prosedur birokrasi, melainkan karena program CSR EPN memandunya.
Elnusa Petrofin menjembatani dengan pelatihan branding, pengemasan, dan strategi pemasaran yang diberikan dalam program UMKM Academy. Thiur belajar, tempoyak bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal narasi alias cerita di balik produk yang membuat orang mau membeli dan membawa pulang sebagai oleh-oleh dari Jambi.
Yang membuat kisah Aksena Snack lebih dari sekadar kisah sukses individu adalah dimensi sosialnya. Thiur tidak berhenti di keberhasilannya sendiri. Ia membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar rumahnya dan aktif berbagi ilmu dengan kelompok PKK setempat.
Sebuah lingkaran ekonomi kecil terbentuk, bermula dari seorang perempuan yang mendapat ruang untuk berkembang. Kegiatan ini mendukung SDGs poin 1 (Tanpa Kemiskinan), poin 5 (Kesetaraan Gender), dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Artinya, bukan sebagai daftar periksa laporan CSR, melainkan sebagai dampak yang bisa dirasakan langsung di tingkat rumah tangga.
Editor : Abna Hidayati







