Arry menjelaskan, kehadiran ayah di sekolah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengantar atau mengambil rapor. Kehadiran tersebut menjadi simbol dukungan, perhatian, dan keterlibatan aktif ayah dalam tumbuh kembang anak.
“Melalui gerakan ini, kita ingin memperkuat budaya pengasuhan yang lebih seimbang antara ayah dan ibu. Kehadiran ayah dalam momen-momen penting pendidikan anak akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan mereka,” katanya.
Ia juga menilai gerakan tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus menjawab fenomena fatherless yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Adapun sasaran gerakan tersebut mencakup anak usia sekolah mulai dari pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.
Editor : Marjeni Rokcalva






