Melalui series tersebut, Kenneth menyampaikan pesan kuat kepada anak-anak dengan dyslexia bahwa perbedaan bukanlah kekurangan. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki cara belajar dan berkembang yang unik, serta perjalanan yang tidak harus terburu-buru. Dengan penuh keyakinan, ia mengajak penonton untuk terus melangkah tanpa menyerah, karena setiap proses membawa mereka lebih dekat menuju “suatu hari” yang diimpikan.
Sebagai pemeran yang menghidupkan kisahnya sendiri, Kenneth menjaga kejujuran cerita dengan berakting secara natural berdasarkan pengalaman pribadi. Ia mengakui tantangan terbesar terletak pada menghidupkan kembali emosi negatif di saat kondisi emosional sedang stabil. Meski demikian, ia berkomitmen untuk menyampaikan cerita secara autentik tanpa mengubah esensi perjalanan hidupnya.
Dari sisi Yuly, proses menghidupkan kembali perjalanan membesarkan Kenneth menghadirkan gelombang emosi yang kompleks. Ia kembali mengingat fase kebingungan, kelelahan, hingga ketidakpastian dalam memahami kondisi anaknya. Namun, pengalaman tersebut juga membuka ruang syukur karena perjalanan panjang yang telah dilalui bersama ternyata membuahkan pertumbuhan dan kekuatan yang luar biasa.
Dalam proses produksi, Yuly melihat perkembangan Kenneth bukan hanya secara kemampuan, tetapi juga dari sisi kepercayaan diri dan pemahaman diri. Ia menekankan pentingnya menjaga proses agar tetap aman, nyaman, dan membahagiakan, sehingga pertumbuhan terjadi secara alami. Pengalaman tersebut memperlihatkan perubahan yang terasa, di mana Kenneth mulai menemukan potensi baru dalam dirinya sebagai kreator.
Editor : Marjeni Rokcalva






