IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Rektor Dengarkan Kisah Pebrina Mahasiswa FEB UNP yang Kehilangan Rumah dan Ibu di Lumin

Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D didampingi Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Perengki Susanto, SE, M.Sc, Ph.D saat berada di Lubuk Minturun, Kamis (4/12/2025). Foto: Humas UNP
Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D didampingi Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Perengki Susanto, SE, M.Sc, Ph.D saat berada di Lubuk Minturun, Kamis (4/12/2025). Foto: Humas UNP
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Padang — Sudah sepekan banjir dan banjir bandang menghajar sebagian wilayah Sumatera Barat, khususnya Kota Padang. Sejak Kamis (27/11/2025), air bah datang seperti tamu tak diundang, meninggalkan lumpur, puing-puing, dan kisah kehilangan yang sulit ditakar. Di tengah kepanikan masyarakat yang masih menyusun ulang hidup, Universitas Negeri Padang (UNP) terus mengirimkan bantuan hampir setiap hari. Gerakan UNP Peduli Banjir berjalan sejak hari pertama musibah dan masih berlanjut hingga hari ini, Kamis (4/12/2025), memastikan donasi sivitas akademika tersampaikan kepada penyintas.

Pada Kamis siang itu, Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D didampingi Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Perengki Susanto, SE, M.Sc, Ph.D serta Direktur Umum dan Keuangan Upita Yeniza, M.Pd. dan tim kembali turun ke lokasi terdampak di Lubuk Minturun. Rombongan tidak hanya membawa paket logistik, tetapi juga menyapa para korban yang kehilangan tempat tinggal. Tak hanya itu kegiatan ini juga membawa kisah yang menyayat hati dari para korban.

Salah satunya hadir dari Pebrina Silfia, mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2021. Tak hanya kehilangan rumah, ia juga kehilangan 'rumah' tempat mengadu yaitu sang ibu. Saat bertemu Rektor, Pebrina berurai air mata, suara seraknya menceritakan kisahnya seperti menyimpan beban yang tak pernah ia bayangkan akan ditanggung di usia semuda ini.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Kamis pagi itu sekitar pukul enam, Pebrina mendapat kabar bahwa air sungai di belakang rumah mulai naik. Ia bersama ibu dan abang laki-lakinya bergegas keluar untuk menyelamatkan diri. Namun derasnya banjir datang terlampau cepat. “Awalnya air tiba-tiba datang pak, kemudian bagian belakang rumah dulu yang hanyut Pak, lalu pada saat kami evakuasi bagian samping rumah dihantam air, tiba-tiba roboh,” ucapnya terbata.

Gelombang pertama menyeret mereka bertiga hingga tersangkut pada pohon kelapa di tepian arus. Ketiganya berpelukan memegang pohon kelapa itu, lalu gelombang lebih besar menerjang lagi, memisahkan mereka seketika. Pebrina terseret lebih jauh, sebelum tubuhnya terlempar ke sebuah atap rumah warga. Dengan sisa tenaga, ia memanjat dan bertahan sambil menggigil. Saat air mulai surut perlahan, ia turun dan menyelamatkan diri menjauh dari arus.

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH