Selain itu, Wawako Ibnu Asis,juga menjelaskan bahwa sejak masa kolonial, Bukittinggi telah dikenal sebagai pusat pendidikan modern dan hingga kini terus berkembang dengan keberadaan sekolah unggulan, madrasah, hingga perguruan tinggi.
“Bukittinggi memiliki sejarah panjang sebagai kota pendidikan. Sejak era kolonial hingga sekarang, peran itu terus kami pertahankan, bersamaan dengan identitas Bukittinggi sebagai kota wisata dan kota perjuangan,” jelas Wawako.
Lebih lanjut Wawako menekankan keunggulan Bukittinggi di bidang perdagangan dan pariwisata. Ikon-ikon wisata seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, hingga Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta disebutnya sebagai daya tarik utama kota, sementara Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning tetap menjadi pusat perdagangan penting di Sumatra Barat, ungkap Wawako.
Ia menegaskan bahwa pemilihan Bukittinggi sebagai lokasi pertemuan didasarkan pada keyakinan bahwa kota ini merupakan ikon pariwisata sekaligus ikon perjuangan.
Editor : Medio Agusta






