Pada sesi terakhir, peserta mendapatkan materi langsung dari ahli di bidang asesmen pendidikan matematika, Prof. Dr. Armiati, M.Pd, yang fokus pada Asesmen Berbasis Deep Learning Berbantuan AI. Guru diajak mempraktikkan pembuatan soal interaktif, kuis digital, dan bank soal yang dapat diintegrasikan langsung dalam media presentasi.
Setelah istirahat, sholat, dan makan siang (ishoma), suasana kembali ramai saat sesi hands-on dimulai. Guru-guru bekerja dalam kelompok untuk merancang perangkat pembelajaran digital mereka sendiri. Dalam proses ini, peserta tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga berkolaborasi, berdiskusi, dan saling memberi masukan. Antusiasme guru memuncak saat sesi praktik kelompok ini.
Panitia membagi peserta menjadi empat kelompok, masing-masing mengangkat satu elemen pembelajaran matematika SMP yang berbeda. Tugas guru menyusun perangkat pembelajaran: lesson plan, merancang media digital interaktif, dan membuat instrumen asesmen berbasis teknologi. Tugas ini tidak hanya dikerjakan di ruang pelatihan. Peserta diberikan waktu selama tiga minggu untuk mengembangkan rancangan, mencoba langsung di kelas, dan menyempurnakannya. Pada pertemuan berikutnya, seluruh kelompok mempresentasikan hasil karya mereka dan mendapat ulasan langsung dari tim pengabdian UNP.
“Biasanya pelatihan selesai di tempat, lalu menguap. Kali ini berbeda. Kami diberi PR yang menantang dan waktu untuk benar-benar mencoba di kelas. Saya yakin hasilnya akan lebih terasa bagi siswa,” ungkap Yuhana Fetri, salah satu guru yang tampak bersemangat menerima tugas.
Di akhir pelatihan, hasil kerja kelompok dipresentasikan di hadapan peserta lain. Beberapa guru menampilkan modul ajar dengan integrasi video penjelasan yang dibantu oleh AI, serta membuat LKPD digital interaktif beserta asesmennya. Sebagai tambahan, tim mahasiswa Adzra Afifah, Atika Sari, dan Hamdani Syaputra turut menyampaikan materi tentang cara mendigitalisasi hasil kerja, seperti modul perangkat dan media pembelajaran, dengan menggunakan web Heyzine. Guru-guru kemudian langsung mempraktikkan materi tersebut dengan mendigitalisasi perangkat yang telah mereka buat. Kreativitas para guru tampak begitu menonjol hingga tanpa terasa, waktu pelatihan telah usai. Setelah itu, guru-guru diberikan tes akhir (postes) untuk mengukur pemahaman dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan.
Ketua MGMP Matematika SMP Kabupaten 50 Kota pada penutupan juga menambahkan bahwa kolaborasi seperti ini akan terus dilanjutkan. “Kami siap bekerja sama dengan UNP untuk mengadakan pelatihan lanjutan. Guru harus terus belajar agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi,” ujarnya.
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta, narasumber, dan panitia. Suasana penuh kebersamaan itu menjadi penanda suksesnya pelatihan. Sertifikat diberikan kepada setiap guru sebagai bukti partisipasi sekaligus motivasi untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas.
Kegiatan pengabdian ini menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi, dinas pendidikan, dan komunitas guru mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif. Dengan bekal deep learning, AI, dan media interaktif seperti ClassPoint, guru diharapkan dapat membangun kelas yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan pemahaman mendalam pada siswa. Penggunaan deep learning, AI, dan ClassPoint diyakini akan membuat pembelajaran matematika menjadi lebih interaktif, kontekstual, dan menginspirasi. (BM)
Editor : Marjeni Rokcalva






