PALUPUH AGAM - Mahasiswa Universitas Andalas yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Nanlimo, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, menjalankan sebuah program edukatif bertajuk “Science Asyikk: Eksperimen Sains Sederhana untuk Meningkatkan Minat Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar.” Program ini diinisiasi sebagai bagian dari kontribusi mahasiswa dalam penguatan pendidikan dasar, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang selama ini sering dianggap sulit dan membosankan oleh sebagian siswa.
Melalui pendekatan praktis dan menyenangkan, kegiatan ini berupaya memperkenalkan konsep-konsep dasar IPA kepada siswa Sekolah Dasar dengan cara yang lebih mudah dipahami, yakni melalui eksperimen langsung yang melibatkan siswa secara aktif. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya bersifat satu arah dari guru ke murid, tetapi juga membangkitkan rasa ingin tahu dan mendorong siswa untuk bertanya dan bereksplorasi.
Program “Science Asyikk” dilaksanakan di dua sekolah dasar yang berada di Nagari Nanlimo, yakni SD Negeri 15 Nan Limo Hilir dan SD Negeri 07 Nan Limo Hilir. Kedua sekolah ini memiliki latar belakang yang serupa, yaitu berada di daerah pelosok dengan fasilitas pendidikan yang terbatas dan minimnya akses terhadap media pembelajaran berbasis praktik. Hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya gagasan dari tim KKN untuk menghadirkan kegiatan eksperimen sains sederhana yang dapat dilakukan tanpa laboratorium dan tetap mengandung nilai edukatif tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, guru di sekolah-sekolah pelosok umumnya mengandalkan metode ceramah atau hafalan karena keterbatasan sarana dan prasarana. Akibatnya, pelajaran seperti IPA menjadi kurang diminati karena dianggap abstrak dan sulit dipahami. Mahasiswa KKN melihat permasalahan ini sebagai peluang untuk memberikan solusi melalui program sederhana yang aplikatif.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadirkan tiga eksperimen utama yang sederhana namun mampu membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Eksperimen pertama adalah telur mengapung dalam air garam, yang digunakan untuk menjelaskan konsep massa jenis. Dengan hanya menggunakan air, garam dapur, dan telur ayam, siswa menyaksikan sendiri bagaimana telur yang sebelumnya tenggelam bisa mengapung setelah garam ditambahkan. “Awalnya saya kira telurnya pasti tetap tenggelam, ternyata bisa mengapung juga. Seru sekali!” ujar Gian, salah satu siswa SD Negeri 15 Nan Limo Hilir yang tampak antusias.
Eksperimen ketiga, yang disebut “jejak tangan misterius”, menggunakan bubuk kunyit, baking soda, alkohol, dan kertas HVS. Siswa mencelupkan tangan mereka pada larutan tertentu dan menempelkannya di atas kertas yang telah diberi bubuk kunyit. Hasilnya, sebuah pola tangan muncul dengan warna yang berubah-ubah, menjelaskan secara alami bagaimana indikator pH bekerja. Tidak sedikit siswa yang terbelalak saat melihat tangannya “muncul” kembali di atas kertas dengan warna menyala.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa terlihat sangat antusias dan terlibat secara langsung dalam seluruh rangkaian eksperimen. Mereka bersemangat mencoba sendiri, mencatat perubahan yang terjadi, dan berdiskusi mengenai penyebabnya. Tidak sedikit siswa yang menyampaikan bahwa ini adalah kali pertama mereka melihat eksperimen sains secara langsung. Selain itu, para siswa bahkan menunjukkan keinginan untuk mengulang eksperimen tersebut di rumah menggunakan bahan seadanya. Hal ini menandakan bahwa program tidak hanya menyenangkan, tetapi juga efektif dalam membangun minat belajar dan daya kritis siswa.
Program ini mendapatkan sambutan positif dari guru-guru yang selama ini mengaku kesulitan dalam menyampaikan materi IPA secara praktis karena keterbatasan waktu, bahan, dan alat peraga. "Kami jarang bisa melakukan eksperimen karena keterbatasan bahan, dan waktu belajar yang singkat. Tapi setelah kegiatan ini, siswa menjadi jauh lebih aktif dan bersemangat dalam belajar IPA," ujar salah satu guru SD 07 Nan Limo Hilir. "Ini kegiatan yang sangat bagus, karena tidak hanya menghibur anak-anak, tapi juga mengajari mereka sesuatu yang baru. Saya harap sekolah bisa mengulang eksperimen ini meskipun mahasiswa sudah tidak di sini," tutur bu Yunefalesi , Kepala Sekolah SD 15 Nan Limo Hilir.
Program ini dipimpin oleh mahasiswa Fisika Universitas Andalas yang tergabung dalam tim KKN Nagari Nanlimo. Koordinator program, Gina Wulandari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap dunia pendidikan, khususnya di daerah terpencil. "Kami ingin membantu meningkatkan kualitas pembelajaran IPA, bukan hanya dengan teori, tapi dengan pengalaman langsung. Sains itu bisa menyenangkan, dan bisa diajarkan dengan alat sederhana asal metode penyampaiannya tepat," jelas Gina.
Editor : Marjeni Rokcalva






