Serangan Belanda dan Perlawanan Padri
Dengan kekuatan militer dan persenjataan yang lebih unggul, Belanda berhasil merebut sejumlah wilayah penting dari tangan kaum Padri. Namun, perlawanan kaum Padri sangat gigih dan tangguh, terutama karena mereka menggunakan taktik gerilya dan bertahan di benteng-benteng di pegunungan seperti Benteng Bonjol.
Tuanku Imam Bonjol menjadi simbol perlawanan. Ia memimpin perlawanan dari daerah Bonjol di Pasaman, yang kemudian menjadi pusat kekuatan Padri. Belanda mengalami kesulitan menaklukkan daerah ini karena kondisi geografis dan dukungan masyarakat.
Kesepakatan Damai Sementara
Pada tahun 1824, terjadi perjanjian damai antara pihak Belanda dan Tuanku Imam Bonjol. Dalam perjanjian itu, Padri bersedia menghentikan perang dan tetap memegang daerah kekuasaan mereka, sementara Belanda tidak akan melakukan penyerangan.
Kejatuhan Bonjol
Perlawanan Tuanku Imam Bonjol berakhir setelah pengepungan panjang dan serangkaian pertempuran yang melelahkan. Pada tahun 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, lalu ke Ambon, dan akhirnya ke Minahasa (Sulawesi Utara), di mana ia wafat pada tahun 1864.
Dengan tertangkapnya Imam Bonjol, secara resmi Perang Padri berakhir. Namun, perlawanan kecil terhadap Belanda masih terus berlanjut di beberapa daerah.
Tokoh-tokoh Penting
Editor : Marjeni Rokcalva






