Perbedaan pandangan ini segera berkembang menjadi konflik terbuka. Kaum Adat menilai gerakan Padri terlalu ekstrem dan memaksakan ajaran Islam secara keras. Sebaliknya, kaum Padri menilai kaum Adat sebagai penyebab kemerosotan moral dan agama di masyarakat.
Perang Saudara
Perang awal antara kaum Padri dan kaum Adat terjadi di berbagai daerah seperti Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Kota. Kaum Padri menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan untuk memberlakukan syariat Islam. Banyak kaum adat yang melarikan diri atau dibunuh jika menolak ajaran mereka.Kekacauan pun meluas. Dalam situasi ini, kaum adat merasa terdesak dan mulai mencari perlindungan kepada pihak kolonial Belanda.
Intervensi Belanda
Kedatangan Belanda
Belanda yang sebelumnya lebih fokus di daerah pesisir Sumatra Barat melihat peluang dari konflik ini. Pada awal abad ke-19, mereka kehilangan kendali atas beberapa wilayah karena pengaruh Inggris yang sempat masuk ke Sumatra. Namun setelah Perjanjian London 1824 antara Inggris dan Belanda, Sumatra kembali diakui sebagai wilayah pengaruh Belanda.
Pada tahun 1821, sejumlah pemimpin adat seperti Sultan Tangkal Alam Bagagar dari Pagaruyung meminta bantuan militer Belanda untuk mengusir kaum Padri. Belanda menerima permintaan ini dan mengirimkan pasukan ke pedalaman Minangkabau. Dengan ini, dimulailah fase baru Perang Padri konflik tiga pihak antara Kaum Padri, Kaum Adat, dan Belanda.
Pada fase ini, Perang Padri berubah dari perang saudara menjadi perang kolonial.
Jalannya Perang Padri (1821–1837)
Editor : Marjeni Rokcalva






