Tahun 1954, Harun Zain menjadi anggota LPEM FE-UI dan Kepala Biro Hubungan Perburuhan dan Industri LPEM FE-UI. Tahun 1956, Harun Zain dipercaya menjadi asisten Dosen UI. Tak lama setelah itu, ia menjadi Dosen FE-UI dalam bidang Ilmu Ekonomi Perburuhan dan Hubungan Internasional. Tahun 1958, Harun Zain lulus menjadi Sarjana Ekonomi dari FE-UI. Kemudian beliau melanjutkan kuliah ke University of California, Berkeley di Amerika Serikat selama dua tahun (1959-1961). Setelah pulang dari University of California, Harun Zain singgah ke tempat Ayahnya yakni Prof. Sutan Muhammad Zain dan Kakaknya, Mr. Zairin Zain yang menjadi Duta Besar RI di Jerman. Sekembali ke FE-UI Jakarta, tahun 1961-1963, Harun Zain ditugaskan menjadi Wakil Direktur LPEM FE-UI, dosen “terbang” di FKIP-UNAND, FE-UNAND, UNSRI Palembang, Dekan FE-UNAND, dan anggota LEKNAS Departemen Urusan Research Nasional Jakarta (sekarang LIPI). Yunior beliau disana adalah Taufik Abdullah (sekarang Prof. Dr., Sejarawan terkemuka). Bahkan dibelakang “layar”, Harun Zain mendukung Taufik Abdullah untuk bisa mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan ke Cornell University di Ithaca. Dalam tahun ini juga, Harun Zain menjadi Guest Lecturer di University of Philippine.
Pengabdian terhadap Sumatera Barat dan masyarakat Minang semakin tak terbendung, dalam tahun 1964-1966, atas dukungan tokoh-tokoh Minang di Jakarta seperti Muhammad Yamin, Chairul Shaleh, Hasyim Ning, Januar Muin, dan lain-lain, Harun Zain diamanahkan menjadi Rektor UNAND tahun 1964. Pada tahun 1965, Harun diberi amanah lagi yaitu menjadi Ketua Seksi Perencanaan Pola Pembangunan Sumatera Barat, waktu itu gubernur Sumatera Barat adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa. Pada tahun 1966, walaupun masih menjadi Rektor UNAND, Harun Zain diamanahkan menjadi Gubernur KDH Tk. I Sumatera Barat. Ini tentunya tak lepas dari perjuangan Harun Zain serta dukungan tokoh-tokoh perantau Minang seperti Januar Muin, Chairul Shaleh, Hasyim Ning, Muhammad Hatta, dan lain-lain. Selama tahun 1964-1968, Jabatan Rektor UNAND sekaligus Gubernur KDH Tk. Sumatera Barat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh Harun Zain. Pada tahun 1968, pulang seorang perantau Minang dari UI, yakni Prof. dr. Busyra Zahir pengganti beliau sebagai Rektor UNAND (https://www.unand.ac.id/about-us/tentang-unand/sejarahua). Hal ini sangat membantu, sehingga Harun Zain dapat fokus menjadi Gubernur KDH. Tk I Sumatera Barat sampai tahun 1977. Setelah sekitar 11 tahun mengabdi sebagai Gubernur Sumatera Barat, beliau digantikan oleh Ir. Azwar Anas untuk periode 1978-1983. Sebelumnya, Azwar Anas adalah direktur PN. Industri Semen Padang.
Selanjutnya Harun Zain dipercaya oleh Presiden Soeharto menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983), Wakil Presiden waktu itu adalah Adam Malik. Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (1997:467) mengungkapkan bahwa, keberhasilan Harun Zain yang sangat menonjol adalah penanganan proyek transmigrasi di daerah Sitiung yang dilakukan secara sangat bijaksana, dengan menegakkan keseimbangan manfaat dari berbagai pihak. Harun Zain dengan mengajak ninik-mamak, alim-ulama, serta cerdik-pandai untuk bermusyawarah telah menghasilkan permufakatan bulat mengenai masalah tanah yang sangat sensitif. Bahkan Widjojo Nitisastro teringat seruan Menteri Harun Zain kepada rekan-rekannya dalam rapat koordinasi para Menteri di bidang ekonomi-keuangan, “apabila semua persoalan dicari pemecahan secara terbuka dan dalam suasana musyawarah, maka tidak ada kesulitan dalam mencapai keselarasan hasil bersama”. Suatu seruan yang tetap relevan untuk masa kini dan masa depan ungkap Prof. Widjojo Nitisastro (Abrar Yusra, 1997:468-469).
Setelah itu, Harun Zain diamanahkan menjadi Anggota DPA-RI untuk periode 1983-1988. DPA ini, mungkin seperti jabatan Penasehat Khusus Presiden RI sekarang atau anggota Wantimpres pada masa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Harun Zain juga menjadi Anggota MPR-RI tahun 1988-1992. Disamping itu, Harun Zain juga menjadi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Indonesia Amerika (LIA) tahun 1988-1990. Sedangkan jabatan sebagai Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta tetap beliau laksanakan sejak tahun 1985-1997. Serta jabatan sosial-kemasyarakatan lainnya seperti Gebu Minang, BK3M, dsb, tetap beliau laksanakan sebagai wujud pengabdian terhadap masyarakat Minang dan rakyat Indonesia tercinta.
Harun Zain memiliki jasa yang besar dalam mambangkik batang tarandam bagi masyarakat Sumatera Barat, baik di ranah maupun di rantau. Hal ini beliau jalankan secara bertahap melalui pembangunan berbagai sektor. Karena pada masa kepemimpinan beliau-lah diletakan fondasi pembangunan Sumatera Barat melalui Repelita/Pelita yang dirumuskan bersama-sama, termasuk dengan UNAND. Generasi sesudah beliau melanjutkan tradisi baik ini, serta meningkatkannya ke arah yang lebih baik. Selain itu, hubungan silaturrahim di antara mereka terus berlangsung baik dan intensif. Gubernur Harun Zain memberikan contoh yang baik terhadap generasi pengantinya. Hal ini dianggap orang sebagai bentuk “pengkaderan” yang dilakukan Gubernur Harun Zain terhadap para penerusnya. Misalnya terhadap Ir. Azwar Anas dan Drs. Hasan Basri Durin. Bahkan Gubernur Harun Zain memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Ir. Januar Muin, Achirul Jahja, Syahrul Ujud, SH, dan masih banyak lainnya.
Baru-baru ini dalam bulan April 2025, saya mendengar berita bahwa beberapa mantan Presiden Indonesia diwacanakan akan diusulkan menjadi Pahlawan Nasional tahun 2025 ini. Saya pikir Harun Zain juga sangat layak diusulkan jadi Calon Penerima Gelar Pahlawan Nasional dari Provinsi Sumatera Barat. Tokoh asal Pariaman ini memiliki jejak langkah perjuangan dan pengabdian yang membentang dari Jawa hingga Sumatera, dari Sabang sampai Merauke. Waktu beliau menjadi TRIP di Jawa Timur, beliau berada dalam barisan pertempuran arek-arek Suroboyo pimpinan Bung Tomo melawan tentara Sekutu (Inggris) yang ingin membumi-hanguskan kota Surabaya, bersamaan dengan itu Belanda datang “membonceng” masuk kembali ke Indonesia. Puncak pertempuran terjadi pada 10 November 1945. Sampai sekarang, tiap-tiap tanggal 10 November setiap tahunnya, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.
Harun Zain melanjutkan perjuangannya dengan membangun Sumatera Barat serta masyarakatnya dari ketertinggalan dan keterpurukan melalui amanah yang beliau terima sebagai Gubernur Sumatera Barat. Bahkan hingga beliau jadi Menteri, anggota DPA, sampai akhir hayatnya. Harun Zain mampu meletakan fondasi pembangunan Sumatera Barat untuk para penerusnya, serta memberikan contoh pengabdian yang baik. Salah satu konsep sangat penting beliau adalah melakukan kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan perguruan tinggi. Melakukan rehabilitasi prasarana ekonomi pada tahun 1967-1969. Menyusun Repelita I tahun 1969-1974 dan Repelita II tahun 1974-1979. Didalam Pelita I, pembangunan prasarana ekonomi dilanjutkan bersamaan dengan pembangunan pertanian sebagai persiapan (basis) ke tahap pembangunan industri serta pembangunan ekonomi lainnya (Abrar Yusra, 1997:206-207).
Sampai akhir hayatnya, Harun Zain terus berbuat yang terbaik untuk bangsa Indonesia, apalagi terhadap Sumatera Barat dan masyarakat Minang, baik yang berada di ranah maupun yang berada di rantau. Sehingga beliau digelari oleh Jend. Pol (Purn). Prof. Dr. Drs. Awaluddin Djamin, MPA sebagai pambangkit batang tarandam orang Minang. Begitu juga halnya dengan Brigjen TNI (Purn). Dr. Saafroedin Bahar menyebutkan bahwa Minangkabau berhutang budi pada Harun Zain (Abrar Yusra, 1997:322, 421-432). Harun Zain menurut pikir-pendapat dan penelitian penulis, layak diusulkan menjadi Calon Pahlawan Nasional RI tahun 2025 ini, sebagai tokoh dari Provinsi Sumatera Barat.
Editor : Abna Hidayati






