"Sebagai Anggota DPRD, tugas kami tentu meneruskan aspirasi dari masyarakat agar usaha mereka bisa tumbuh kembang bersama "kakok tangan" pemerintah daerah," ujarnya.
Prima juga menyampaikan pemerintah daerah perlu menangkap potensi di daerah dengan melirik produk-produk khas di nagari yang ada, karena itulah salah satu hak yang menjadi penanda dan alasan orang unruk mengenal lebih jauh tentang sebuah daerah.
"Selagi bisa, ada ruang dan peluang, pasti kita bisa. Kami juga berkeinginan agar batik ini dapat dipakai oleh seluruh pegawai pemerintah daerah dihari tertentu dan juga dapat dijadi buah tangan khas daerah kita. Itulah yang kami tekankan kepada masyarakat," ujar Prima.
Ketua Kelompok Batik Kalincuang Rosnani mengatakan usaha ini telah dimulai pada 9 November 2024 lalu melalui kegiatan pelatihan dari Program Ormawa Membangun Nagari yang dibawa oleh Dosen Politeknik Pertanian Payakumbuh, Synthia Afner serta mahasiswanya saat pengabdian ke masyarakat.
Ilmu dari akademisi itu ternyata disambut baik oleh masyarakat, sekarang mereka sudah mampu membuat kalincuang, limbah dari ampas getah gambir untuk dijadikan pewarna batik tulis.
Rosnani menyebut Batik Kalincuang ini perlahan sudah ada peminatnya. Beberapa waktu lalu perangkat nagari sudah memesan 12 kain batik untuk baju seragam. Pesanan ke luar daerahpun sudah ada seperti Payakumbuh, Kalimantan, dan Jakarta.
"Harga jual kami termasuk murah, harga pesanan perlembar kain untuk ukuran 2x1,15, rentang harga 350 ribu sampai 500 ribu tergantung motif," ujarnya.
Rosnani berharap nantinya banyak anak-anak muda yang berminat untuk mengembangkan bakatnya pada batik kalincuang ini, termasuk harapan untuk didorong oleh pemerintahd dan investor bagaimana Batik Kalincuang ini nanti bisa go internasional. (Do)
Editor : Medio Agusta






