Pendapat berbeda datang dari Rivo Efendi,Mahasiswa D3 Akuntasi Universitas Andalas,ia berpendapat bahwa gaya penulisan Josephine rowe terlalu rumit dan sulit dimengerti,ia merasa karyanya sering melompat lompat dalam waktu dan alur nya sering tidak jelas,membuat Rivo kebingungan dengan alur ceritanya.
Rivo juga berpendapat bahwa meskipun deskripsi tentang alam yang ditulis oleh Rowe memang cantik,tetapi kadang terlalu Panjang dan membuat ia kehilangan fokus pada ceritanya Josephine Rowe.Selain itu,tema tema kesepian dan trauma yang sering diangkat oleh Rowe terasa sangat abstrak,ia berharap Rowe bisa menambahkan lebih banyak momen positif atau harapan dalam ceritanya.Meskipun bahasanya indah,ia merasa bahasanya tidak singkron dengan tema kegelapan,membuat ceritanya terasa sangat berat dan sulit dipahami.
Secara keseluruhan,gaya penulisan Rowe menawarkan bahasa puitis dan tema yang mendalam,karya karyanya yang sering berlatar di Australia,dapat memberikan pengalaman membaca yang kaya dan emosional.Meskipun mungkin ada tantangan dalam mengadaptasi karyanya ke dalam konteks budaya Indonesia, ada juga banyak peluang untuk menciptakan interpretasi yang segar dan relevan. Dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan keindahan alam Indonesia, adaptasi tersebut dapat membawa pesan Rowe kepada audiens yang lebih luas, sambil tetap menjaga esensi dari karya aslinya. Secara keseluruhan, Josephine Rowe memiliki potensi untuk menginspirasi dan menggugah pemikiran bagi pembaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
(Radja)
Editor : Berita Minang






