Setelah tamat, Sutan Muhammad Zain menjadi guru di Maninjau (1907), Makassar (1908), Batavia (1911), OSVIA Bandung (1912), Kepala Pengarang Balai Pustaka (1914), Dosen Bahasa Melayu di Universiteit Leiden (1922-1926), Kepala Balai Bahasa Indonesia (1947-1949), Ketua Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Nasional Jakarta (1949), dan meraih gelar Profesor dari Universiteit Leiden pada 1957 (https://niadilova.wordpress.com/2014/10/23/in-memoriam-prof-harun-zain-1-maret-1927-19-oktober-2014/). Dr. Suryadi, dosen Universiteit Leiden, Belanda, mengistilahkan beliau sebagai "perantau Minangkabau golongan kerah putih" (https://niadilova.wordpress.com/2014/05/05/minang-saisuak-173-putra-pariaman-aset-nasional/).
Isjrin Noerdin lahir di Langsa, Aceh, suatu daerah yang sangat kuat memegang ajaran Islam dan daerah yang tidak pernah mampu ditaklukan oleh penjajahan Belanda secara nyata. Ada pelajaran terbaik yang patut kita ambil. Bahwa terdapat jalinan komunikasi dan silaturrahmi yang kuat antara Rektor UNAND Drs. Harun Zain dengan Rektor IKIP Padang Prof. Dr. Isjrin Noerdin. Hal ini mungkin disebabkan karena sama-sama memiliki niat yang tulus mambangkik batang tarandam, mambangun kampuang halaman setelah peristiwa PRRI (1958-1961) sehingga Sumatera Barat jauh tertinggal dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Jejak langkah pertama Drs. Harun Zain saat menapakkan kaki di ranah Minang adalah sebagai dosen terbang Fakultas Ekonomi Pancasila (sekarang FE UNAND) pada tahun 1961 dan dosen terbang FKIP UNAND yang dahulunya adalah PTPG Batusangkar (sekarang UNP). Pada masa ini, tahun 1961-1963, Harun Zain bolak-balik dari Jakarta ke Padang, karena beliau adalah dosen tetap FE-UI. Sebelumnya, Harun Zain juga menjadi dosen tamu di University of Philippine (1961) dan mengajar di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang (1961-1963).
Pendiri UNSRI Palembang adalah orang Minang juga, dr. Muhammad Isa, seorang alumni STOVIT Surabaya (UNAIR sekarang). dr. Muhammad Isa menjadi Rektor pertama UNSRI Palembang pada tahun 1960-1966, namun sebelumnya beliau adalah Gubernur Sumatera Selatan (1948-1954) setelah Gubernur Adnan Kapau Gani. Adnan Kapau Gani juga berdarah Minangkabau, Pemerintah telah menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional RI (Hasril Chaniago, 2023:27, 38). Jadi pada masa ini (1960-an), sungguh banyak para pemuda-pemudi Minangkabau nan cemerlang di berbagai kampus ternama: UI, ITB, IPB, UNAIR, UGM, dsb, yang pulang kampung untuk mengabdi sesuai dengan bidangnya masing masing-masing. Disini berlaku apa yang disebut dengan mambangkik batang tarandam, istilah yang diberikan oleh Prof. Dr. Jenderal. Polisi (Purn) Awaloeddin Djamin kepada Drs. Harun Zain saat menjadi Rektor UNAND (Abrar Yusra, 1997:323).Ketika Harun Zain menjadi Rektor UNAND, kantor Rektorat UNAND berada di Jati, Padang. Rumah Dinas Kediaman Rektor yang sederhana. Kampus barunya di Air Tawar baru di isi Fakultas Peternakan (Abrar Yusra, 1997:133). Ada pesan nan arif dari Rektor UNAND Drs. Harun Zain kepada mahasiswa UNAND saat itu "sadarilah fungsi kalian sebagai mahasiswa universitas tertua di luar Jawa. Ini kan perguruan tinggi. Tempat kita memancarkan kehadiran kita. Bagaimana kita membangun masa depan Sumatera Barat".
(Hendri Ainsyah Koto)
Editor : Berita Minang






