Kami juga sama sama menekuni dunia jurnalistik sejak SMP dan sampai SPGN Painan, kami sama sama wartawan Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang dan mengelola majalah dinding sekolah. Dan terakhir sama sama wartawan Sumbar Mandiri. Sejak tidak di Sumbar Mandiri, dia tak aktif lagi sebagai wartawan fokus sebagai anggota DPRD. Di dunia wartawan Mardinas pernah dua periode menjadi ketua PWI Pesisir Selatan.
Tak hanya itu untuk beberapa hal di luar pendidikan formal pun kami memiliki guru yang sama, seperti menulis puisi dan berita.
Namun saat melanjutkan ke perguruan tinggi dan setamat dari kuliah, ada yang berbeda diantara kami, Mardinas mengambil jalur politik dan menjadi anggota DPRD, puncak karirnya, ketua DPRD Pesisir Selatan. Sementara saya memilih menjadi guru SD, Kemudian berkat dorongannya bersama Alirman Sori dan da Sabay, saya pindah menjadi pegawai Pemkab Pesisir Selatan, di Humasy Kantor Bupati.
Soal karir saya, Mardinas termasuk kanda Alirman dan Sabay, cukup perhatian. Bahkan ketika saya terpilih sebagai anggota KPU Kabupaten dia ngotot mengurus saya agar bisa menjadi ketua. Tapi saya tidak mau. Saya ingin terpilih karena pilihan kawan sesama anggota KPU, bukan karena loby melalui orang orang partai politik dan penguasa. Karena itu akan mengganggu integritas dan indepensi saya.
Akhirnya saya tidak terpilih. Dia sepertinya kecewa. Saya waktu itu biasa biasa saja. Biar menjadi anggota dari pada jadi ketua tapi tersandra secara politik.
Setelah periodesasi anggota KPU kabupaten berakhir, awanya lebih cenderung memilih menjadi guru lagi. Tapi lagi lagi dia melarang."Jangan, " katanya. Menurutnya, saya lebih baik tetap di pemkab. Sarannya akhirnya saya terima.
Karir politik Mardinas, terbilang cemerlang. Tiga periode di DPRD, dari periode tersebut satu periode sebagai anggota, periode kedua PAW wakil ketua menggantikan alm. Heri Atma Jumhari dan periode ketiga menjadi Ketua DPRD dari partai Demokrat.
Dalam politik dia merupakan tokoh muda yang memiliki potensi dan kemampuan debat yang luar biasa. Dalam membangun jaringan politik serta penguasaan forum kala memimpin sidang saat menjadi Ketua DPRD pun terbilang mantap.
Pasca reformasi dia bersama tokoh tokoh muda Golkar, seperti Alirman Sori, Erman Baktiar, alm. Heri Atma Jumhari, merupakan anggota DPRD Fraksi Golkar (tahun 2009 Madinas pindah partai ke Demokrat) yang disegani baik lawan maupun kawan politik.
Editor : Berita Minang






