Sepekan kegiatan di surau berjalan, mulai ada peningkatan jumlah santri. Jumlahnya kini 9 orang. Ini berkat kejelian Dayu dan Susi menyusun program belajar. Dimana setiap petang dari Senin sampai Jumat, santri diajari membaca Al Qur'an sedangkan hari Sabtu belajar ilmu agama.
Genap satu bulan berjalan, Susi dan Dayu mencoba membuat program untuk terus menarik anak-anak datang dan betah mengaji di Surau Lakuak. Yang paling utama adalah, santri tidak dipungut biaya apapun atau gratis.
Kemudian diupayakanlah baju seragam buat mereka dengan menggaet donatur. Sedangkan untuk membeli mesin pengeras suara lengkap dengan kabel instalasi serta beberapa buah bohlam lampu disumbangkan Dayu dari gajinya sebagai Penyuluh Agama Honorer Kementerian Agama.
Sebelum mengaji anak-anak dilatih dengan ilmu pengetahuan agama dan memberikan quiz. Hadiahnya dari makanan yang dijual oleh anak-anak surau kadang kami kasih hadiah dalam bentuk uang. Walau nilainya tak seberapa ternyata cara ini ampuh menambah motivasi mereka untuk datang belajar ke Surau.
Program terus dikembangkan, pada hari-hari tertentu seperti Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat santri mengaji seperti biasa. Sedangkan hari Rabu diajarkan ilmu tajwid.
Papan tulis untuk belajar ini hanya triplek untuk menutupi rak buku yang bolong. Meski demikian para santri tetap antusias, hingga dua beradik yang menjadi guru ini pun tetap semangat.
Menariknya, Didikan Subuh terlaksana setelah hari mulai siang ini karena jarak rumah santri dan surau ada yang berjauhan. Sedangkan sarapan pagi awalnya dimodali oleh Dayu dan Santi hingga kemudian ada donatur yang dengan ikhlas menyumbang setiap minggunya.
Usai sarapan, santri diajak gotong royong membersihkan lingkungan surau sekaligus mengajak mereka mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan.
Waktu terus berjalan dan program yang digagas oleh Dayu dan Susi juga berkembang. Mulai dari para santri diajak puasa sunat hingga diajarkan untuk jadi Muazin, Imam dan hafalan doa untuk santri putra maupun putri.
Editor :






