Haris, bocah laki-laki yang sejak tadi tak berhenti mengunyah, lain lagi, dia mau jadi polisi.
"Wah, kalau mau jadi polisi, makan harus banyak, Ris. Harus nambah," timpal Gubernur sambil sodorkan jeruk manis ke Haris.
Pak Hariyanto sendiri cerita kalau ia adalah seorang petani coklat. Ia tidak menjelaskan apakah ia punya lahan kebun sendiri atau bekerja di ladang orang. Betapapun, kini ia lumayan senang karena harga coklat Rp25 ribu perkilogram.
"Lagi naik ini sekarang, Pak. Biasanya 20 ribu sekilo," ulasnya.
Gubernur lalu lempar pandangan ke anak Pak Hariyanto, yang sebelumnya disebut tulang punggung keluarga oleh Bapak dan Ibunya. "Kalau kamu, kegiatannya apa sekarang?" tanya Gubernur.
Ibu dari Tyas, Shangrila, Sonya, dan Haris itu lalu menerangkan, Ia jual kue lapis aci dan kue bolu buatan sendiri di pasar dekat rumah. Katanya, dulu sebelum pandemi bisa laku 50 sampai 60 kue sehari. Setelah pandemi, sayangnya, jual 10 saja sulit.
Gubernur lalu bertanya tentang Tyas ke Eyang Utinya. Kata Bu Umres, Tyas tamat SMEA sudah tiga tahun tapi tidak lanjut kuliah karena tidak ada duitnya.
Obrolan antara Gubernur dan seluruh anggota keluarga Pak Hariyanto, kecuali Tyas yang, kata Haris, ternyata tertidur alih-alih malu, hampir sampai di ujungnya ketika semua rombongan Tim Singgah Sahur dan keluarga Pak Hariyanto selesai menikmati santapan sahurnya masing-masing.
Menutup Singgah Sahur kali ini, Gubernur sembari tepuk kecil bahu Haris berpesan, "Ayo Ris kamu makan, biar kuat bantu ibunya nanti bikin kue lebaran. Karena nanti banyak yang mau pesan waktu lebaran itu. (Lalu mengusap kepala Shangrila) Kakak sekarang kelas 2 MAN IPA, kan? Dapat juara terus kata Eyang. Coba ditingkatkan hafalan qurannya. Kalau hafal 20 juz, bisa masuk kedokteran. Insyaallaah lulus kedokteran bisa dibantu Baznas atau beasiswa kita (Pemprov) juga bisa. Rajin-rajin saja belajar Shangrila sama Sonya. Biar jadi dokter, bisa obatin mbah. Nanti Haris yang jagain kakak-kakak sama mbahnya. Siapa yang berani ganggu, ndak bakal ada, kan nanti Haris jadi polisi."
Editor : Berita Minang






