Pada masa Orba wacana Cak Nur tadi enak di dengar oleh satu kalangan tetapi alerjik bagi kalangan lain. Dan pada ujung masa usianya, Cak Nur tidak mengatakan bahwa Partai Islam itu tidak penting.
Ternyata pada ketika Habibi turun dan kemudian apa yang menamakan dirinya Poros Tengah, Cak Nur mendukung. Poros tengah para pemimpin parpol Islam dan nasionalis yang lebih dekat dengan kalangan Islam mendukung Abdurrahman Wahid (1940-2009) pendiri PKB menjadi Presiden RI sebagai Presiden RI ( 1999-2001) .
Sejak itu, sebetulnya istilah nasionalis-sekuler dan naionalis-islami selesai. Akan tetpi kini muncul istilah pada judul tulisan ini nasionalis-relijius dan relijius nasionalis.
Istilah ini kelihatannya seakan-akan reingkarnasi. Istilah lama yang di modifikasi. Kata Islami hilang diganti dengan relijius.
Kata nasionalis tetap tetapi kata Islamis diganti menjadi relijius. Wa Allah a'lam bi al-Shawab.(***)
Penulis: Dr. Shofwan Karim adalah Ketua PWM dan Dosen PPs UM Sumbar serta Ketua Umum YPKM
Editor : Berita Minang






