Kendati begitu, dalam penelitian sejarah dan eksistensi Kerajaan Jambu Lipo ini, ada beberapa bagian yang masih perlu ditelusuri lebih dalam antara lain sejarah, dan kajian arkeologis.
"{enelitian ini perlu pendalaman lebih lanjut terkait dengan sejarah yang memerlukan penelitian lebih komprehensif, pengujian dan kajian arkeologis terhadap tinggalan-tinggalan yang ada. Juga perlu kajian sosiologis dan antropologis terhadap masyarakat, daerah, dan lembaga-lembaga terkait, kajian bahasa, dan kajian terhadap lingkungan," tutup Sudarmoko.
Dari penelusuran pustaka, asal usul nama Kerajaan Jambu Lipo diperkirakan bermula dari kata "jambhu dwipa" dalam bahasa Sanskerta yang faedahnya "tanah asal". Sedangkan menurut Tambo Minangkabau nama Jambu Lipo bermula dari hasil akad Rajo Tigo Selo di Pagaruyung yang tidak boleh saling melupakan, dengan asal kata "jan bu lupo" yang faedahnya "jangan ibu lupa".
Pada pertama kalinya pusat Pemerintahan Kerajaan Jambu Lipo berada di Bukit Jambu Lipo. Pada masa pemerintahan raja ke-4 yang bernama Buayo Kumbang bersama pembesar yang lain mengadakan perundingan terhadap pertentangan Putih Mengenang yang disepakati kepada memindahkan pusat pemerintahan ke Nagari Lubuk Tarok. (Relis/Je)
Editor : Berita Minang






