IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Tokoh Nasional Bahas Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung Sumbar

Proses adat di Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung Sumbar. Foto: Net.
Proses adat di Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung Sumbar. Foto: Net.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

"Kerja ini tujuannya agar generasi muda dan penerus Kerajaan Jambu Lipo dan Nagari Lubuak Tarok agar memahami warisan budaya, nilai-nilai sejarah, dan sosialnya. Selain itu, kita berharap Kerajaan Jambu Lipo jadi perhatian nasional. Dan itu saya kira sudah terjadi," terang Hidayat.

Bukti Kerajaan Jambu Lipo menjadi perhatian nasional, tambah Hidayat, ketika Ketua DPD RI Lanyala Mahmud Mattalitti dianugerahi gelar kehormatan Tuanku Palito Alam oleh pewaris Kerajaan Jambu Lipo Tuanku Rajo Godang, Firman Bagindo Tan Ameh di Istana Kalambu Suto, Kerajaan Jambu Lipo, pada Sabtu (27/112021) lalu.

"Saya pribadi sangat senang keberadaan Kerajaan Jambu Lipo diapresiasi Pak Ketua DPD RI Lanyala Mahmud Mattalitti. Ini membanggakan. Dampaknya sangat positif dan bisa mempercepat pembangunan ekonomi, infrastruktur dan budaya di Lubuak Tarok. Tujuan utama kita memang itu. Eksistensi Kerajaan Jambu Lipo jadi perhatian nasional dan pusat," terang Ketua IKA FIB Unand ini.

Jambu Lipo Kaya Warisan Budaya

Sudarmoko menambahkan, tidak diragukan lagi bahwa Kerajaan Jambu Lipo merupakan sebuah kerajaan yang telah berdiri cukup lama, dengan tinggalan berwujud material dan non-material yang masih dapat ditemui.

Selain itu, kerajaan-kerajaan yang masih ada seperti Kerajaan Jambu Lipo ini memiliki arti penting bagi masyarakat, khususnya yang menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Menurutnya, prosesi Rajo Manjalani Rantau melalui penelitian ini menunjukkan bahwa prosesi ini merupakan salah satu mata rantai yang penting dalam menjaga keberlangsungan kerajaan Jambu Lipo, terutama dalam hal menjaga hubungan antara pihak kerajaan dengan masyarakat dan juga daerah-daerah rantau yang memiliki hubungan-hubungan khusus dan kuat dengan kerajaan.

"Seperti terlihat dalam respons masyarakat dan nagari-nagari selama prosesi berlangsung. Agenda reguler ini juga menjadi media dalam mempertahankan ingatan kolektif terhadap kerajaan, memperbaharui pengetahuan sejarah dan adat istiadat, serta menjadi medium dalam menyelesaikan persoalan, konflik, dan rencana dalam skala yang luas," urai Sudarmoko.

Perhatian penting lainnya, jelasnya lagi, adalah mengenai tinggalan, ruang-ruang publik, cerita lisan, dan ingatan kolektif masyarakat mengenai sosial budaya di sekitar kerajaan.

"Hal ini menjadi penting karena dengan adanya dukungan sosial budaya inilah narasi kerajaan, dan juga narasi-narasi yang terkait, dapat bertahan dalam ruang dan waktu yang lebih lama," jelasnya.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH