IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Waduh! Stop Truk Batu Bara, Emak-emak Lubuktarok Sijunjung Portal Jalan

Tangkapan layar video para Emak Lubuktarok, Sijunjung, Portal Jalan. Foto: Dok. Jurnal Sumbar
Tangkapan layar video para Emak Lubuktarok, Sijunjung, Portal Jalan. Foto: Dok. Jurnal Sumbar
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

SIJUNJUNG - Belasan Emak-emak Jorong Kototuo, Nagari Lubuktarok, Kecamatan Lubuktarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, ramai-ramai turun ke jalan memportal badan jalan terhadap akses truk pengangkut batu bara, pada Sabtu (20/11/2021).

Alasannya, kendaraan berat ini diyakini berpotensi mempercepat kerusakan fisik jalan hingga akhirnya kembali punya jalan buruk. Penyetopan akses kendaraan berat ditandai dengan menaruh bangku-bangku kayu di tengah badan jalan, seraya secara bersama-sama mereka berjaga-jaga di sekitar lokasi. Begitu lewat kendaraan, khusus truk bermuatan batu bara, langsung distop, disuruh berputar putar-balik.

Informasi di lokasi kejadian, aksi nekat tersebut kaum emak-emak ini sudah berlangsung sejak beberapa hari terakhir. Menyusul selesainya proses pembangunan (proyek) rigit beton di jorong tersebut yang dibiayai dengan pagu dana APBD tahun 2021 melalui dana aspirasi (pokok pikiran) Anggota Dewan (DPRD) Kabupaten Sijunjung.

Aksi ini Sabtu (20/11/2021) siang sempat terjadi keributan antar kaum ibu-ibu dengan seorang sopir truk. Dimana ketika hendak melintas sehabis mengisi muatan dari dalam area tambang batu bara (masih dalam kawasan Kototuo-red), laju kendaraan truk, jenis tiper, secara bersama-sama distop, seraya badan jalan dipalang menggunakan bangku-bangku kayu.

Penutupan jalan ini, kata emak-emak ini, selama ini warga sudah cukup menderita punya jalan buruk (jalan tanah), dan baru kini dapat dibangun rigit beton oleh Pemerintah Kabupaten Sijunjung.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Tidak terima di-stop, sang sopir truk pun ikut terpancing emosi, bahkan naik pitam, hingga kursi kayu dilempar ke tepi jalan. Ia bersikukuh juga berhak berlalu-lalang, pakai kendaraan apa pun, karena jalan umum adalah milik umum.

"Kami tidak ingin badan jalan kampung ini harus kembali hancur sepeti dulu lagi akibat dilalui kendaraan-kendaraan berat, rumah-rumah penduduk diselimuti debu, bila turun hujan jalanan berlumpur.

Sejak bertahun-tahun berharap, baru kini dapat terealisasi (dibangun) oleh pemerintah daerah. Ketika hancur, tidak ada pihak mau bertanggung jawab," serbu para ibu-ibu pada sang sopir.

Merasa tidak bisa diajak kompromi, sang sopir yang juga merupakan warga Nagari Lubuktarok, minta agar pihaknya berunding dengan sesama kaum laki-laki. Namun permintaan itu diabaikan para emak-emak yang berkerumun di lokasi penyekatan.

Fenomena ini, dalam bentuk rekaman video, sepanjang hari kemarin juga sempat viral di media sosial (fecebook) akun milik seorang warga.

Editor :
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH