Konferensi Internasional ICLLE-4 Jurusan Basindoda FBS Universitas Negeri Padang Ditutup oleh Dekan

PENDIDIKAN-328 hit

Padang-Pimpinan Universitas Negeri Padang dan Pimpinan Fakultas Bahasa dan Seni menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pimpinan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah serta Panitia ICLLE-4 atas suksesnya penyelenggaraan Konferensi Internasional pada Kamis (29/7) hari ini.

Demikian disampaikan oleh Dekan FBS Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Ermanto, M.Hum. dalam sambutannya ketika menutup Konferensi Internasional ICLLE-4 pada Kamis (29/7) bertempat di ruang sidang FBS UNP Kampus Air Tawar, Padang.

Lebih lanjut Prof. Ermanto, S.Pd., M.Hum. menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesediaan pemakalah utama yakni Dr. Edwin Jurriens (Asia Institute, Melbourne University, Australia), Dr. Shamila Mohamed Shuhidan (Universiti Teknologi Mara, Malaysia), Prof. Dr. Koh Younghun (Hankuk University of Foreign Studies, South Korea), dan Prof. Dr. Agustina, M.Hum. (FBS Universitas Negeri Padang).
"Pimpinan Fakultas juga menyampaikan apresiasi kepada sekitar 51 pemakalah paralel dengan harapan panitia segera dapat menerbitkan proseding internasional yang akan diterbitkan oleh Atlantis Press," jelas Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang.

Baca Juga


Lebih lanjut Prof. Ermanto juga menyampaikan rangkuman sidang pleno dari empat pemakalah utama tersebut.

Pembicara I, Dr. Edwin Jurriens (Asia Institute, Melbourne University, Australia), menyampaikan bahwa bahasa adalah instrumen utama untuk pengungkapan ide, persaan, dan fakta. Bahasa adalah ibarat senjata yang nilai manfaatnya tergantung pada pengguna di balik bahasa itu. Pengguna bahasa yang baik akan tetap mampu menyuarakan IPTEKS, kesejahteraan, keadilan, dan politik dalam kondisi apa pun.

Kata Dekan FBS, Dr. Edwin Jurriens (Asia Institute, Melbourne University, Australia) juga menjelaskan bahwa penggunaan bahasa sangat berhubungan dengan kondisi sosial polotik di lingkungan kondisi sosial politik pengguna bahasa itu. Pada kondisi sosial politik terbuka dan demokratiscenderung digunakan gaya bahasa yang mengandung makna denotatif dan literal dengan fakta-fakta objektif. Sebaliknya, padda kondiisi sosial politik yang otoriter yang represif cenderung digunakan bahasa dengan gaya kiasan dengan fakta-fakta imajinatif yang artistik agar pesan sampai kepada pembaca atau pendengar, tatapi penulis atau pembicara selamat dari jerat rezim tertenntu.

Lebih lanjut kata Prof Ermanto, S.Pd., M.Hum. Dr. Shamila Mohamed Shuhidan (Universiti Teknologi Mara, Malaysia), pembicara II menyampaikan strategi pembelajaran pada masa pandemi yang dilabeli dengan ODL (open distance learning) 'pembelajaran secara terbuka'. Inti strategi ini bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centres)dan itu dilaksanakan secara online (tidak tatap muka). Masih menurut pembicara ini, pembelajaran secara ODL mengharuskan pembelajar dan dosen/guru mahir menggunakan teknologi (literasi digital).

Pembicara III, Prof. Dr. Koh Younghun (Hankuk University of Foreign Studies, South Korea), menyajikan makalah berkenaan dengan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (Korea). Pembicara ini menggunakan istilah smart learning untuk pelaksanaaan pembelajaran bahasa Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.

Pembicara IV, Prof. Dr. Agustina, M.Hum. (FBS Universitas Negeri Padang) menyampaikan Wacana bermula dari mengkaji struktur (1) relasi bahasa antarkalimat, (2) kemudian menkaji maksud tersembunyi yang ada dalam kalimat dengan menghubungkan teks, wacana dominan, ideology, dan kekuasaan, (3) selanjutnya mengkaji wacana yang tidak hanya mebahas pesaan yang tersembunyi yang dalam teks, relasi teks, ideology, wacana dominan, dan antisipasi wacana ke depan, berupa alternative solusi dan kemungkinan kebertahanan wacana. Penerapan analisis wacana antisipatif dilakukan untuk menggali pesan yang tersembuyi dalam teks dan berbagai relasinya yang dikontrol dengan konteks IPTEKS, sosialbudaya, sejaraah dan politik untuk mengontrol kesetaraan kedudukan wacana yang berkembang di masyarakat , serta untuk menjelaskan kebertahanan wacana tertentu. (ET)

Loading...

Komentar

Berita Terbaru