IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Songket Minangkabau: Dari Pandai Sikek Hingga Silungkang

Foto Sasmita Zulianti
Ilustrasi Songket Minangkabau: Dari Pandai Sikek Hingga Silungkang
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Perbedaan tersebut terlihat pada susunan ragam hias dan penggunaan bahan. Kajian mengenai songket Sumatera Barat mencatat bahwa songket Silungkang memiliki karakter yang berbeda dari kain balapak Pandai Sikek. Silungkang juga mengenal jenis songket batabua, songket penuh, songket ikat, benang dua, dan songket selendang lebar.

Istilah batabua mengacu pada pola benang emas atau perak yang tersebar di permukaan kain. Polanya tidak memenuhi seluruh bagian kain seperti songket balapak. Hasil akhirnya memberikan ruang yang lebih banyak pada warna dasar kain, sementara hiasan benang tambahan muncul dalam bentuk motif yang tersebar.

Tenun Silungkang juga berkembang menjadi berbagai produk selain kain sarung. Pengrajin di daerah tersebut menghasilkan selendang, pakaian, kain hias, dan sejumlah produk kerajinan lainnya. Perkembangan produk tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan menenun di Silungkang dapat digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas tanpa meninggalkan teknik tenun sebagai dasar pembuatannya.

Motif Songket dan Penggunaan dalam Adat

Ragam hias menjadi bagian penting dalam kain songket Minangkabau. Motif yang digunakan tidak selalu sama antara satu daerah dengan daerah lain. Pandai Sikek memiliki sejumlah motif seperti Kaluak Paku, Pucuak Rabuang, Barantai Merah, dan Kunang-kunang, sedangkan Silungkang mempunyai Bungo Malur, Pucuak Jawo, Pucuak Kalapa, dan Kudo-Kudo.

Sejumlah motif songket juga mempunyai hubungan dengan ragam hias yang dikenal dalam seni ukir Minangkabau. Bentuk tumbuhan, bunga, daun, dan pola geometris dapat ditemukan dalam berbagai karya seni tradisional. Hubungan tersebut tidak berarti semua motif mempunyai arti yang sama di setiap daerah, karena susunan dan pemaknaan ragam hias dapat berkembang mengikuti lingkungan pembuatnya.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Songket digunakan dalam berbagai kegiatan adat di Sumatera Barat. Dalam acara perkawinan, kain songket dapat menjadi bagian dari busana anak daro atau pengantin perempuan. Di lingkungan Pandai Sikek, kain songket juga dikenal dalam penggunaan adat sebagai tando atau pemberian yang berkaitan dengan hubungan sosial masyarakat.

Penggunaan songket juga terlihat dalam pakaian adat dan kegiatan resmi. Kain dapat dipakai sebagai sarung, selendang, atau bagian tertentu dari busana. Bentuk pemakaian tersebut bergantung pada daerah dan jenis kegiatan. Karena itu, songket yang dikenakan dalam sebuah baralek di Tanah Datar tidak selalu memiliki bentuk dan susunan motif yang sama dengan kain yang digunakan masyarakat Silungkang.

Keahlian menenun menjadi bagian penting dalam keberadaan songket Minangkabau. Di Pandai Sikek, keterampilan tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya melalui lingkungan keluarga dan masyarakat. Upaya pewarisan juga dilakukan melalui sanggar tenun dan kegiatan yang mendorong generasi muda untuk mengenal kembali pekerjaan menenun.

Songket Minangkabau pada akhirnya memperlihatkan bahwa tradisi tenun di Sumatera Barat memiliki banyak bentuk. Pandai Sikek mempunyai karakter yang kuat dengan kain balapak dan ragam motif cukie serta sungayang. Silungkang berkembang dengan beragam jenis songket dan motif yang berbeda, sementara daerah lain seperti Kubang, Tanjung Sungayang, dan Batipuh juga memiliki tradisi tenun masing-masing.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH