IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Harato Pusako Tinggi dalam Adat Minangkabau yang Dimiliki Bersama di Kaum

Foto Sayyid Sufi Mubarok
Ilustrasi Harato Pusako Tinggi dalam Adat Minangkabau yang Dimiliki Bersama di Kaum
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

HARATO atas harga pusako tinggi dalam adat Minangkabau merupakan harta yang dimiliki secara bersama oleh suatu kaum dan diwariskan melalui garis keturunan ibu. Harta tersebut dapat berupa tanah ulayat, sawah, ladang, rumah gadang, tanah perkuburan, dan bentuk kekayaan lain yang telah diwariskan dalam lingkungan kaum. Karena sifatnya komunal, pusako tinggi tidak dipandang sebagai milik pribadi seseorang, melainkan menjadi kekayaan yang manfaatnya berkaitan dengan kehidupan anak kemenakan dalam kaum.

Sistem tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau. Dalam sistem ini, hubungan keluarga ditarik melalui garis ibu sehingga anak masuk ke dalam kaum ibunya. Pewarisan pusako pun mengikuti garis tersebut. Karena itu, seorang perempuan dalam kaum memiliki kedudukan penting dalam keberlanjutan garis keturunan dan penerimaan manfaat dari harta pusaka.

Bentuk Harato Pusako Tinggi

Harato pusako tinggi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Sawah dan ladang, misalnya, dapat menjadi sumber penghidupan bagi anggota kaum. Rumah gadang juga termasuk bagian dari pusako tinggi karena berkaitan dengan tempat tinggal dan kegiatan bersama kaum. Selain itu, tanah ulayat dan tanah perkuburan dapat berada dalam penguasaan komunal suatu kaum.

Kepemilikan secara bersama membuat pusako tinggi berbeda dengan harta pribadi. Seseorang yang mengelola sebidang sawah pusaka tidak otomatis dapat memperlakukannya seperti tanah milik pribadi yang bebas dijual kepada orang lain. Ada hubungan antara harta tersebut dengan kaum yang memiliki garis keturunan, termasuk anak kemenakan yang menjadi bagian dari kaum.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Dalam adat Minangkabau dikenal hubungan antara sako dan pusako. Sako berkaitan dengan gelar atau kedudukan adat, sedangkan pusako berkaitan dengan harta yang dimiliki dan diwariskan dalam lingkungan kaum. Penghulu atau ninik mamak memiliki tanggung jawab untuk mengurus persoalan kaum, termasuk memelihara harta pusaka dan membimbing anak kemenakan.

Rumah gadang menjadi salah satu gambaran yang mudah dilihat dari hubungan tersebut. Bangunan yang menjadi tempat tinggal kaum perempuan dalam garis keturunan ibu itu tidak hanya berfungsi sebagai rumah, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan keluarga dan musyawarah kaum. Dalam sejumlah dokumentasi kebudayaan Minangkabau, rumah gadang ditempatkan sebagai bagian dari harta pusaka tinggi yang diwariskan kepada pihak perempuan dalam kaum.

Pewarisan dari Mamak kepada Kemenakan

Pewarisan pusako tinggi mengikuti garis keturunan ibu. Dalam lingkungan adat, hubungan pewarisan ini sering dijelaskan melalui pola dari ninik kepada mamak, kemudian dari mamak kepada kemenakan. Kemenakan yang dimaksud dalam konteks ini terutama anak dari saudara perempuan seorang mamak.

Kedudukan mamak dalam urusan pusako tidak berarti seluruh harta menjadi milik pribadi mamak. Mamak memiliki fungsi adat untuk mengatur, menjaga, dan mengawasi kepentingan kaum. Dalam praktiknya, mamak juga dapat memanfaatkan hasil pusako untuk menjalankan tanggung jawab terhadap kaum sesuai ketentuan adat. Karena itu, kewenangan mengurus harta berbeda dengan kepemilikan pribadi atas harta tersebut.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH