Di Kabupaten Pasaman, Silek Harimau Bandarolobiah di Kampung Paraman, Nagari Cubadak Timur menjadi salah satu contoh aliran yang masih dapat ditelusuri bentuk geraknya. Dokumentasi terhadap aliran tersebut mencatat persoalan regenerasi sebagai salah satu tantangan, terutama berkaitan dengan minat generasi muda dan sistem pembinaan. Karena itu, pencatatan gerakan menjadi bagian penting agar pengetahuan yang dimiliki guru dan pelaku silek tidak hanya bergantung pada ingatan satu generasi.
Kondisi berbeda juga dapat ditemukan di daerah lain. Di Nagari Batu Taba, Kabupaten Tanah Datar, misalnya, Sasaran Silek Junguik Sati memiliki pola Langkah Ampek dan masih mendapat perhatian masyarakat setempat. Silek di wilayah tersebut juga dikaitkan dengan pembentukan karakter generasi muda. Contoh tersebut menunjukkan bahwa perkembangan silek sangat bergantung pada kondisi sasaran dan dukungan masyarakat di masing-masing nagari.
Silek Harimau juga berkembang di luar wilayah asal kebudayaan Minangkabau. Kajian mengenai Silek Harimau mencatat keberadaan komunitas dan bentuk pertunjukan yang berkembang hingga Jakarta. Perubahan ruang tersebut membuat beberapa gerakan silek kemudian tampil dalam bentuk pertunjukan, koreografi, dan kegiatan budaya, sementara fungsi bela diri tetap menjadi bagian dari pengetahuan yang melekat pada tradisinya.
Bagi masyarakat Minangkabau, Silek Harimau akhirnya dapat dilihat melalui gerakan dan lingkungan sosial tempat ia diwariskan. Duduak randah, gelek, tangkok, elakan, serta gerakan yang terinspirasi dari harimau menjadi bagian dari kekayaan teknik yang berkembang pada aliran tertentu. Di saat yang sama, hubungan silek dengan adat, sasaran, guru, dan anak sasian membuat keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat nagari.







