Silek Harimau juga menggunakan gerakan yang mengambil gambaran dari perilaku hewan. Dalam perkembangan silek Minangkabau, harimau, kucing, buaya, dan burung termasuk contoh alam yang menjadi sumber inspirasi penamaan maupun pola gerak beberapa aliran. Karena itu, nama Silek Harimau tidak hanya menunjukkan nama aliran, tetapi juga menggambarkan hubungan antara pengamatan terhadap alam dan pembentukan gerak bela diri.
Pada Silek Harimau Bandarolobiah di Nagari Cubadak Timur, misalnya, terdapat gerakan tangkok dan elakan berisi sebagai bagian dari teknik pertahanan. Ada pula sapu, guntiang, dan caka yang termasuk teknik menyerang dalam aliran tersebut. Nama dan bentuk gerakan itu menunjukkan bahwa Silek Harimau memiliki kosakata gerak yang cukup spesifik sesuai dengan tradisi perguruan tempat aliran itu berkembang.
Gerakan yang terlihat rendah dan dekat dengan tanah juga menjadi salah satu ciri yang sering dikaitkan dengan Silek Harimau. Dalam perkembangan tradisi silek, posisi tubuh memang dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat sebuah aliran tumbuh. Karena itu, bentuk gerak tidak selalu sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Silek Minangkabau sendiri memiliki pola permainan berdiri, rendah, hingga gerakan yang dekat dengan tanah.
Silek Harimau tetap berada dalam lingkungan silek Minangkabau yang memiliki hubungan erat dengan adat dan pembentukan sikap. Dalam tradisi silek dikenal ungkapan “lahie silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan”. Prinsip tersebut menempatkan silek sebagai pengetahuan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama sekaligus hubungan spiritual dengan Tuhan.







