IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Makna Tersembunyi di Balik Peribahasa, Sataba-taba Pungguang Ladiang, Kok Diasah Tajam Juo

Foto Rahul Adelson
Ilustrasi Makna Tersembunyi di Balik Peribahasa, Sataba-taba Pungguang Ladiang, Kok Diasah Tajam Juo
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Dari pandangan pendidikan, peribahasa ini bisa menjadi filosofi dasar dalam proses belajar-mengajar. Guru tidak seharusnya hanya fokus pada siswa yang “pintar secara akademis”. Karena ada banyak siswa yang terlihat pasif atau lemah, namun jika dipahami lebih dalam, mereka memiliki potensi luar biasa. Tugas pendidikan adalah mengasah semua sisi ladiang, bahkan bagian belakangnya. Dengan pendekatan yang tepat, dorongan yang sabar, dan lingkungan yang mendukung, siswa-siswa ini dapat menemukan keistimewaan mereka sendiri. Dan ketika mereka berhasil, maka keberhasilan itu jauh lebih bermakna karena diperoleh dari jalur yang tidak mudah.

Banyak tokoh besar dunia yang dulunya dianggap biasa, bahkan gagal. Thomas Edison pernah dikatakan tidak cocok untuk sekolah. Albert Einstein dianggap lambat berbicara. Oprah Winfrey dipecat dari pekerjaannya karena “tidak cocok tampil di TV.” Namun mereka semua adalah contoh dari bagian belakang ladiang yang diasah hingga akhirnya menjadi sangat tajam, bahkan mampu mengukir sejarah.

Di Indonesia sendiri, banyak tokoh yang lahir dari keluarga sederhana, meniti pendidikan dengan penuh perjuangan, namun akhirnya membawa perubahan besar. Mereka adalah bukti nyata dari filosofi Minangkabau ini bahwa asal diasah, ketidaksempurnaan pun bisa bersinar.

Peribahasa “Sataba-taba pungguang ladiang, kok diasah tajam juo” bukan sekadar nasihat lama. Ia adalah seruan moral dan sosial yang menggema dari masa lalu untuk masa kini. Ia mengajak kita untuk:

• Tidak cepat menilai orang dari kekurangan atau tampilan luarnya.

• Memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bertumbuh.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
• Meyakini bahwa potensi bisa muncul dari mana saja bahkan dari tempat yang tak terduga.

• Menghargai proses perjuangan dan kerja keras sebagai inti dari ketajaman sejati.

Ketajaman bukan ditentukan oleh dari mana kita mulai, tetapi oleh seberapa keras kita mau diasah, dan seberapa lama kita bertahan dalam prosesnya.

Dalam dunia yang semakin kompetitif dan penuh tekanan untuk menjadi sempurna, peribahasa ini menawarkan pelipur sekaligus kekuatan: bahwa dari ketidaksempurnaan pun, bila digarap dengan tekun, akan lahir ketajaman yang tidak kalah hebatnya. Maka, mari kita asah diri kita, dan bantu orang lain untuk turut diasah karena setiap pungguang ladiang punya peluang untuk tajam.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH