IPLT Payakumbuh, memiliki bangunan pengolahan terdiri dari 7 instalasi dengan luas lahan sekitar 1 hektar itu dapat menampung maksimal 35 kubik perhari. Saat ini keberadaan IPLT sangat membantu Pemko dalam prioritas pengolahan limbah domestik di wilayah kota. Makin berkurang dampak negatif limbah domestik terhadap pencemaran lingkungan.
Marta juga menyebutkan bagi daerah tetangga yang belum memiliki IPLT, bila berminat kerjasama ikut diolah limbah domestiknya di IPLT Payakumbuh, Pemko siap membuatkan Perwako terkait kerjasama itu.
"Tapi kita tetap menghitung kapasitas daya tampung terlebih dahulu, atau yang disebut idle capacity, berapa yang masih tersisa karena prioritas utama kita tentunya adalah limbah warga Kota Payakumbuh," kata Marta.
*Sedimen Bernilai Tambah*
Keberadaan IPLT bagi Pemko Payakumbuh sangat memberikan multiplier efek, selain dampak kesehatan bagi masyarakat dengan meminimalisir pencemaran lingkungan akibat limbah domestik, ada keuntungan kecil lainnya yang bisa didapatkan yaitu nilai tambah dari output pengelolaan lumpur tinja, yaitu sedimen atau endapan.
"Lumpur tinja yang endapaannya bisa dijadikan pupuk hanyalah nilai tambah dari keberadaan IPLT kita. Untuk pemanfaatannya masih dalam tahap uji coba. sejauh mana bisa dimanfaatkan, maka kita perlu belajar banyak ke daerah yang telah berhasil mengolah dan melakukannya," kata Marta.
Untuk mendukung itu, kedepan Pemko akan menambah besarnya kapasitas sarana hangar jemur sedimen (Sludge Drying Bed), sementara itu dari 30 kubik limbah yang diolah, ditaksir baru bisa menghasilkan maksimal kira-kira 5 kubik endapan perhari. (Do)
Editor : Berita Minang






