BUKITTINGGI - Ketua Asosiasi Homestay Kota Bukittinggi, Muhammad Subari, mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian Homestay selalu meningkat, membuat Jumlah Homestay di Bukittinggi bertambah setiap tahun.
Tetapi, selama masa pandemi covid 19 tingkat hunian menurun drastis Keluhan dari pengelola homestay di Bukittinggi rata-rata sama, padahal Homestay yang ada sudah melaksanakan Protap Covid-19, ujar Muhammad Subari dalam ssmbutannya pada pembukaan pelatihan pengelolaan homestay yang dilaksanakan Dinas Parpora Bukittinggi.
Menurut M.Sabri, Kendala utama dari Homestay saat ini adalah jumlah tamu atau hunian. Untuk promosi sudah dilakukan melalui media sosial sudah dilakukan, katanya.
"Jumlah Homestay di Bukittinggi yang telah terdaftar di Asosiasi Homestay Bukittinggi sebanyak 54 buah. Saat ini, aturan baru tentang bagamana Homestay, jumlah kamar dan sebagainya belum ada," ujar M.Subari.
Menurutnya, peningkatan kompetensi pengelola Homestay kedepan bagaimana pengelola dapat mengedepankan Sapta Pesona dan melengkapi amenitas (kelengkapan Homestay) sesuai standarisasi. Pengelola Homestay harus bersinergi dengan pelaku pariwisata untuk pengembangan produk Homestay dan promosi,tambahnya.
Dikatakannya, sektor pariwisata perlu dikeroyok secara bersama. Pembenahan dan peningkatan sangat dibutuhkan terutama manajemen, kelembagaan dan SDMnya.
Pelatihan yang digelar di Hotel Santika Bukittinggi dari 3-5 November 2020,
Dilaksanakan Dinas Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Bukittinggi dengan DAK Non Fisik pelayanan kepariwisataan 2020
untuk meningkatkan kompetensi pengelola homestay.
Editor : Berita Minang






