Semasa Syekh Daud mengajar di Surau Jembatan Besi, murid-murid dari nagari-nagari Batipuah X Koto, bertambah banyak datang mengaji.
Sekitar dua tahun beliau mengajar. Kemudian Syekh Daud Rasyidi pergi ke Arab Saudi. Beliau memperdalam pengetahuan agamanya, kepada Syekh Ahmad Chatib Almunangkabawi yang mengajar di Kota Mekah.
Sejak Syekh Daud Rasyidi berangkat ke Mekah, beliau digantikan oleh kakaknya, Syekh Abdul Latif yang merupakan ayahanda H. Muchtar Luthfi, juga dikenal seorang ulama Minangkabau.
Pada tahun 1911, Surau Jembatan Besi diasuh Syekh Abdul Karim Amarullah yang akrab disapa Inyiak Rasul. Beliau ini adalah Ayahanda Buya Hamka.
Inyiak Rasul masa itu, memimpin Diniyah School. Tempatnya di Surau Jembatan Besi. Masa itu namanya sudah menjadi Masjid Jembatan Besi.
Masjid itu ketika dipakai untuk belajar, diberi kain pembatas. Sisi sebelah kiri untuk laki-laki. Untuk perempuan di sebelah kanan.
Semasa diasuh Inyiak Rasul itu pula, pengajian surau, yang bernama Diniyah School itu, semakin maju. Pelajaran kitab kitab berbahasa Arab makin diminati murid murid.
Penuntut ilmu agama Islam, bertambah banyak datang ke Padang Panjang. Mereka berasal dari nagari nagari di Minangkabau dan juga dari luar daerah. Seperti Tapanuli Selatan, Aceh, Bengkulu dan Riau.
Istilah jembatan besi bermula, dari sebuah jembatan terbuat dari besi. Kira-kira 30 m, sebelah selatan surau ini, pada mulanya ada jembatan kayu yang beratap. Kemudian jembatan itu, diganti dengan jembatan terbuat dari besi. Tapi tidak diberi atap.
Editor : Berita Minang






