JAKARTA - Indonesia pertama mengumumkan pasien pertama dan kedua COVID-19 pada 2 Maret 2020. Lebih dua bulan sejak diumumkan, kini jumlah pasien positif Corona di Indonesia mencapai 14.032 kasus.
Mengutip data pemerintah per 10 Mei 2020, pengetesan paparan COVID-19 sudah dilakukan pada 113.452 orang. Saat ini tercatat total 14.032 kasus positif COVID-19, 2.698 orang yang sudah sembuh dan 973 orang yang sudah meninggal. Angka kesembuhan naik 91 orang, sedangkan angka kematian naik 14 orang.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi aktivitas sosial. Dimulai berkala dengan meliburkan sekolah dan membuat aturan learn from home, lalu work from home, dan kini membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi aktivitas sosial warga.
PSBB tak hanya berdampak pada orang dewasa. Tapi juga terhadap anak-anak. Mereka tak hanya berdampak secara kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi dan pendidikan. UNICEF Indonesia melakukan penelitian tentang dampak non kesehatan dari COVID-19 bagi anak-anak di Indonesia.
Angga Dwi Matra, Spesialis Kebijakan Sosial UNICEF mengatakan dampak Covid-19 terhadap anak-anak memang tak besar secara kesehatan, namun anak juga menanggung dampak lain, yaitu dampak sosial dan ekonomi. Menurut hasil penelitian UNICEF, pemberlakuan PSBB berdampak besar pada penghasilan pekerja sektor informal. Padahal pekerja ini juga memiliki keluarga. Turunnya penghasilan kepala keluarga memberi pengaruh langsung pada kesejahteraan anak.
Dalam diskusi dipandu, Endah Lismartini, Ketua Bidang Divisi Anak dan Gender AJI Indonesia yang mengambil tema besar "Dampak Sosial Ekonomi COVID-19 pada Anak-Anak di Indonesia", Angga menuturkan, saat ini hanya 52 juta penduduk di Indonesia yang bisa dianggap memiliki pendapatan yang aman. Sementara sebagian besar dari 115 juta penduduk Indonesia yang diklasifikasikan sebagai "calon kelas menengah" (istilah yang baru-baru ini diperkenalkan oleh Bank Dunia) termasuk sangat rentan.
PSBB yang sedang diperlakukan membuat "calon kelas menengah" kehilangan penghasilan. Kehilangan pendapatan rumah tangga yang terjadi secara tiba-tiba menimbulkan ketidakstabilan situasi ekonomi keluarga dan dapat berujung pada kemiskinan.
Mengutip proyeksi Bappenas, Angga menuturkan bahwa kemungkinan penduduk Indonesia jatuh miskin naik menjadi 55 persen, dengan sekitar 27 persen calon kelas menengah diperkirakan mengalami ketidakamanan pendapatan yang menghawatirkan.
"Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat. Survei daring menunjukkan bahwa kebutuhan pangan semakin tidak aman: 36 persen dari responden menyatakan bahwa mereka "sering kali" mengurangi porsi makan karena masalah keuangan," ujar Angga menambahkan.
Editor : Berita Minang






