“Begitulah karomah Guru saya Ungku Kuniang Saruaso. Tidak ada pemberitahuan dari awal. Tidak ada pula pesan yang disampaikan sebelumnya. Namun, beliau tahu kami akan tiba,” demikian kata Ungku Malin Kuniang, yang diceritakan kembali oleh H. Ampera Salim.
Bagi keluarga Tuanku Salim Malin Kuniang, cerita ini bukan sekadar kenangan, tentang perjalanan seorang murid menemui gurunya. Kisah tersebut, juga menggambarkan kuatnya penghormatan seorang murid kepada guru agama, serta eratnya hubungan yang terjalin di antara mereka.
Sebuah cerita yang perlu terus dituturkan dari generasi ke generasi. Sekaligus mengingatkan, bahwa perjalanan menuntut ilmu, tidak hanya membutuhkan langkah kaki. Tetapi juga kecintaan, adab, dan ketulusan hati. (AS)
Penulis / Wartawan: Berita Minang
Editor: Marjeni Rokcalva





