PALEMBAYAN, KABUPATEN AGAM – Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan oleh Tim Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dari Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang (FT UNP) di SDN 35 Gumarang, Desa Gumarang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ketua Tim Pengabdian Departemen Teknik Sipil FT UNP, Syahril Rahmat, S.T., M.Sc, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan siswa sekolah dasar terhadap banjir dan tanah longsor melalui edukasi kebencanaan serta penerapan teknologi mitigasi sederhana berupa lubang resapan biopori. Tim terdiri atas tiga dosen dan lima mahasiswa Departemen Teknik Sipil FT UNP.
Desa Gumarang berbatasan langsung dengan Desa Salareh Aia yang sebelumnya terdampak banjir bandang atau galodo. Kondisi wilayah yang berbukit dengan tanah yang relatif labil membuat desa ini berpotensi mengalami banjir limpasan dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Sebelum kegiatan, SDN 35 Gumarang belum memiliki program edukasi kebencanaan yang terstruktur, dan di lingkungan sekolah belum ada sistem resapan air sederhana.
Pada tahap praktik, siswa terlihat antusias mengikuti pembuatan biopori di halaman sekolah. Tim lebih dulu menjelaskan bagian-bagian biopori, kemudian menggali tanah dengan bor tangan, memasukkan pipa PVC berlubang, dan memasang penutupnya. Pipa yang digunakan berdiameter 10–30 cm dan tinggi 50–100 cm, bahan yang murah, tahan lembap, dan aman bagi anak-anak. Hasilnya, 15 titik biopori terpasang di lingkungan sekolah.
Biopori berfungsi meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi limpasan dan genangan, menjaga cadangan air tanah, serta menjadi tempat pengolahan sampah organik secara alami. Selain itu, biopori yang dibuat bersama siswa menjadi media belajar lingkungan dan mitigasi bencana yang dapat ditiru masyarakat. Dengan demikian, dampak biopori tidak hanya pada pengurangan risiko genangan, tetapi juga pada tumbuhnya kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.
Hasil evaluasi pada 21 siswa kelas 5 menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan. Rata-rata skor naik dari 79,05% pada pre-test menjadi 90,48% pada post-test, atau bertambah 11,43 poin, dan tidak ada siswa yang skornya menurun. Peningkatan terbesar terjadi pada pengetahuan dan penerapan biopori, dari 65,48% menjadi 84,52%. Pengetahuan tentang penyebab banjir bandang dan longsor mencapai 98,81%, tanda-tanda awal bencana 95,24%, tindakan sebelum dan saat bencana 88,10%, serta tindakan setelah bencana 85,71%.
Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sebelum dan saat bencana mengalami peningkatan terkecil, sehingga simulasi evakuasi perlu dijadwalkan secara berkala di sekolah. Evaluasi ini dilakukan pada sampel yang kecil dan bersifat jangka pendek, sehingga evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan pengetahuan tersebut bertahan.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak sekolah dan pemerintah desa. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim melakukan pendampingan melalui empat kali kunjungan ke sekolah pada 10 Maret, 18 Juli, 24 Agustus, dan 7 September 2026, melampaui target minimal tiga kali kunjungan. Seluruh target luaran kegiatan, yaitu sosialisasi, simulasi kesiapsiagaan, pelatihan dan praktik biopori, edukasi lingkungan, serta pendampingan, dinyatakan telah tercapai.
Tim berharap penerapan teknologi sederhana seperti biopori dapat ditiru di rumah siswa dan di sekolah lain di wilayah rawan bencana, dan pengetahuan yang diperoleh siswa dapat berkembang menjadi budaya siaga bencana yang bertahan lama. Dokumentasi kegiatan juga dikemas dalam video yang dapat disaksikan di kanal YouTube Syahril Rahmat. (R/BM)
Editor : Marjeni Rokcalva






